Bersama mu aku senang, bukan karena kesendirian ku berakhir, melainkan karena kamu berhasil mewarnai hidupku. Kamu datang menggantikan dia yang sudah mengganti warna hidupku dengan warna hitam, kelam.
Sehari, dua hari, satu minggu, satu bulan, kita saling dekat, bahkan lebih dekat. Tapi, terlalu cepat untuk ku nyatakan ini sebuah rasa cinta.. Dan akhirnya kamu pun juga terlalu cepat untuk pergi meninggalkan ku
Aku berfikir jika terlalu lama aku akan kehilangan kamu, tapi nyatanya? Takdir membawa kamu pergi jauh hingga tak ingin lagi mengenal siapa aku. Lalu apa yang harus aku lakukan? Berfikir mengakhiri hidup? Tidak! Berfikir dia akan kembali? Tidak! Aku berharap, bukan berfikir. Beraharap kamu masih memikirkan aku, masih mengkhawatirkan aku, masih ingin melihat dan tau tentang kabarku.
Andaikan kamu layangan yang bisa ku dapat dengan menarik benangnya, dan melepasmu dengan memutuskan benangnya. Tapi sayang, kamu tak semudah itu untuk ku dapatkan apa lagi untuk ku lepaskan..
Kamu lupakan aku, kamu lupakan semua usaha yang ku lakukan. Aku tau aku bodoh, terlalu cepat berharap kamu menggantikannya, tapi ini perasaan yang tak bisa ku atur sendiri..
Untuk apa kamu datang dengan sejuta tawa dan senyuman hingga aku harus menyambutmu dengan kebahagiaan? Jika akhirnya kamu pun pergi meninggalkan ribu deraian air mata?
Perasaanmu berbeda, sampai-sampai semua yang aku lakukan sia-sia..
Nggak ada lagi sebuah harapan yang aku harapkan, ngga ada lagi semua kepastian, gak papa aku sendiri disini tanpa kamu, tanpa kata-kata cinta kamu lagi. .
Dan nggak ada lagi kisah kita..
Aku sanggup dan mampu nahan sakitnya di cuekin kamu, di abaikan kamu. Karena itu resiko aku bertahan, dan aku nggak boleh ngeluh karna ini pilihanku. Rasa TULUS yang menjatuhkan aku pada pilihan ini. Dan seharusnya kamu mengerti..
"Tapi aku disini tetep menunggu kamu kembali sampai kapanpun sebelum aku nemuin pengganti kamu yang bener-bener bisa gantiin posisi kamu di hati aku."
Selasa, 25 Juni 2013
Jumat, 17 Mei 2013
Merindukan kehadirannya.
Malam ini aku menulis untukmu, aku merindukan kamu yang beberapa minggu lalu masih hadir di dalam rumah sederhana ini. Kesederhanaan hidupku mungkin membuat kamu tak menyukainya, tapi ini aku, ini hidupku..
Aku rindu kamu, rindu bertemu dengamu, rindu melihat kamu tersenyum, rindu melihat kamu sibuk memainkan ponselmu di hadapanku, rindu rangkulan darimu, rindu bersandar di tubuhmu yang menompang kenyamanku. Aku rindu semua itu..
Datanglah lagi kesini, ke rumah sederhana dimana tempatku menunggu kamu datang. Aku tetap berada disini menunggu kamu datang lagi meskipun itu tak akan mungkin.
Kamu maya yang beberapa waktu kemarin menjadi nyata, dan kini kamu menjadi semu.
Kamu indah yang beberapa wkatu kemarin membuat luka hilang, tapi kini kamu ikut menghilang dan menghadirkan luka baru.
Sehina apa diri ini hingga bertanya kabarmu saja tak kau perbolehkan? Sehina apa diri ini hingga memintamu berkunjung kesini saja tak kau hiraukan? Sehina apa diri ini hingga ingin berjumpa dengamu saja sudah tidak mungkin?
Hasrat ingin berjumpa denganmu hanya untuk memandangmu lagi, hanya untuk berbicara lembut padamu, hanya untuk mendengarkan setiap hembusan nafasmu. Aku berjanji tak akan lebih dari itu, hanya itu yang aku ingin lakukan dengan puas saat bertemu denganmu..
Sudah cukup keacuhanmu, kamu hilang memberontak tak sama dengan keinginanku.
Minimal bertemanlah denganku, hingga kesempatan mengenalmu masih bisa aku rasakan. Buka hatimu, jangan hanya membuka matamu, matamu tak seutuhnya bisa melihat ketulusanku, karna matamu tak bisa seutuhnya melihat kerisauan ini. Jangan hanya membuka telingamu, karna mendengarkan tentangku tak cukup untuk mendengar seperti apa aku melewati rasanya kau acuhkan. Buka ketiganya ; hatimu, matamu, dan telingamu.
Hatimu untuk mencoba menerima ungkapan ini, matamu untuk membaca apa yang ingin aku sampaikan, dan telingamu mendengar pertimbangan yang kamu dapatkan dari lingkunganmu untuk menentukan bagaimana ketulusan yang benar-benar ada. Maka kamu akan tau bagaimana seseorang mengharapkan kamu dengan tulus tanpa faktor lain apapun..
Dewasalah, karna aku sanggup bersedia membantumu dalam berlaku dewasa..
Aku rindu kamu, rindu bertemu dengamu, rindu melihat kamu tersenyum, rindu melihat kamu sibuk memainkan ponselmu di hadapanku, rindu rangkulan darimu, rindu bersandar di tubuhmu yang menompang kenyamanku. Aku rindu semua itu..
Datanglah lagi kesini, ke rumah sederhana dimana tempatku menunggu kamu datang. Aku tetap berada disini menunggu kamu datang lagi meskipun itu tak akan mungkin.
Kamu maya yang beberapa waktu kemarin menjadi nyata, dan kini kamu menjadi semu.
Kamu indah yang beberapa wkatu kemarin membuat luka hilang, tapi kini kamu ikut menghilang dan menghadirkan luka baru.
Sehina apa diri ini hingga bertanya kabarmu saja tak kau perbolehkan? Sehina apa diri ini hingga memintamu berkunjung kesini saja tak kau hiraukan? Sehina apa diri ini hingga ingin berjumpa dengamu saja sudah tidak mungkin?
Hasrat ingin berjumpa denganmu hanya untuk memandangmu lagi, hanya untuk berbicara lembut padamu, hanya untuk mendengarkan setiap hembusan nafasmu. Aku berjanji tak akan lebih dari itu, hanya itu yang aku ingin lakukan dengan puas saat bertemu denganmu..
Sudah cukup keacuhanmu, kamu hilang memberontak tak sama dengan keinginanku.
Minimal bertemanlah denganku, hingga kesempatan mengenalmu masih bisa aku rasakan. Buka hatimu, jangan hanya membuka matamu, matamu tak seutuhnya bisa melihat ketulusanku, karna matamu tak bisa seutuhnya melihat kerisauan ini. Jangan hanya membuka telingamu, karna mendengarkan tentangku tak cukup untuk mendengar seperti apa aku melewati rasanya kau acuhkan. Buka ketiganya ; hatimu, matamu, dan telingamu.
Hatimu untuk mencoba menerima ungkapan ini, matamu untuk membaca apa yang ingin aku sampaikan, dan telingamu mendengar pertimbangan yang kamu dapatkan dari lingkunganmu untuk menentukan bagaimana ketulusan yang benar-benar ada. Maka kamu akan tau bagaimana seseorang mengharapkan kamu dengan tulus tanpa faktor lain apapun..
Dewasalah, karna aku sanggup bersedia membantumu dalam berlaku dewasa..
Sabtu, 11 Mei 2013
Pesan ini tertunda ku kirim untuknya ♥
Layar ponsel membatasi gambar yang selalu ku jumpai yaitu kamu.
Setiap melihat gambarmu diponsel ini, keinginanku menghampiri kuat! Ingin menggapai jemarimu, lalu ku pasangkan pada jemariku.
Ingin melihat kamu lebih dekat, mengenal kamu lebih dalam, dan memiliki kamu tanpa terkecuali.
Kamu berhasil merenggut perhatianku, berhasil menciptakan obsesiku untuk memahami kehidupanmu.
Kehidupan yang tak pernah aku tau sedikitpun, kamu mungkin juga tak begitu mengenal diriku, tapi tuhan mempertemukan kita untuk saling mengenal bukan? :')
Jangan pergi menjauh, aku masih ingin mengenal lebih lama lagi, memahami kamu lebih lama lagi.
Aku bersyukur tuhan telah mendatangkan kamu pada hidupku walau akan berakhir seperti apapun nanti setelah kita bertemu, aku ikhlas apapun yang terjadi setelah kita berjumpa..
Cukup nyaman diri ini bercanda gurau didalam pesan singkat, yap pesan singkat yang setiap kau balas berhasil mendatangkan degupan kencang di jantung ini.
Degupan yang begitu cepat dari biasanya, melebihi batas! Dan degupan yang tak bisa aku gambarkan nanti jika aku bertemu denganmu.
Karena bertemu denganmu adalah kesenangan atau kebahagiaan bagiku, dan aku tau. Kamu, kebahagiaan dan pelangi adalah sama ; kalian sama-sama datang dengan keindahan tapi begitu cepat menghilang.
Sekarang kamu menghilang setelah banyak hal yang kita lakukan, terlalu banyak bayangan dirimu didalam rumah sederhanaku.
Bertemu denganmu terakhir kalinya dengan puas aku menatap kamu, jarak yang tak lagi dekat tiba-tiba datang tanpa pernah aku duga :')
Sekarang kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja? Sehatkah kamu? Tolong jaga dia tuhan, terutama jaga kesehatannya, rubah dia menjadi lebih baik, pertemukan kami kapanpun engkau mentakdirkan :"
Setiap melihat gambarmu diponsel ini, keinginanku menghampiri kuat! Ingin menggapai jemarimu, lalu ku pasangkan pada jemariku.
Ingin melihat kamu lebih dekat, mengenal kamu lebih dalam, dan memiliki kamu tanpa terkecuali.
Kamu berhasil merenggut perhatianku, berhasil menciptakan obsesiku untuk memahami kehidupanmu.
Kehidupan yang tak pernah aku tau sedikitpun, kamu mungkin juga tak begitu mengenal diriku, tapi tuhan mempertemukan kita untuk saling mengenal bukan? :')
Jangan pergi menjauh, aku masih ingin mengenal lebih lama lagi, memahami kamu lebih lama lagi.
Aku bersyukur tuhan telah mendatangkan kamu pada hidupku walau akan berakhir seperti apapun nanti setelah kita bertemu, aku ikhlas apapun yang terjadi setelah kita berjumpa..
Cukup nyaman diri ini bercanda gurau didalam pesan singkat, yap pesan singkat yang setiap kau balas berhasil mendatangkan degupan kencang di jantung ini.
Degupan yang begitu cepat dari biasanya, melebihi batas! Dan degupan yang tak bisa aku gambarkan nanti jika aku bertemu denganmu.
Karena bertemu denganmu adalah kesenangan atau kebahagiaan bagiku, dan aku tau. Kamu, kebahagiaan dan pelangi adalah sama ; kalian sama-sama datang dengan keindahan tapi begitu cepat menghilang.
Sekarang kamu menghilang setelah banyak hal yang kita lakukan, terlalu banyak bayangan dirimu didalam rumah sederhanaku.
Bertemu denganmu terakhir kalinya dengan puas aku menatap kamu, jarak yang tak lagi dekat tiba-tiba datang tanpa pernah aku duga :')
Sekarang kamu dimana? Apa kamu baik-baik saja? Sehatkah kamu? Tolong jaga dia tuhan, terutama jaga kesehatannya, rubah dia menjadi lebih baik, pertemukan kami kapanpun engkau mentakdirkan :"
Jumat, 26 April 2013
Just hiding.
JATUH CINTA?
Aku jatuh cinta, jatuh cinta pada pria yang ku pandang pertama kali di sebuah tempat semua siswa-siswi berkumpul saat istirahat. Tapi aku melihatnya bukan saat istirahat, melainkan saat semua murid berbondong-bondong pulang menuju rumahnya masing-masing.
Aku jatuh cinta, jatuh cinta pada pria yang ku pandang pertama kali di sebuah tempat semua siswa-siswi berkumpul saat istirahat. Tapi aku melihatnya bukan saat istirahat, melainkan saat semua murid berbondong-bondong pulang menuju rumahnya masing-masing.
"Siapa ya? kok gapernah liat, kayaknya bukan murid
sini deh. Bisa kenal gak ya?" Aku bertanya dalam hati.
Sesaat aku pandangi dia yang sejak tadi sedang
menunjukan kemampuannya dengan teman-temannya. Entah mereka sedang melakukan
apa, yang pasti mereka meloncat dari jarak jauh dan mencoba merayap seperti
laba-laba dipagar. Aku suka, suka saat pertama kali menatapnya, tatapanku
benar-benar hanya tertuju padanya.
"Uhuk belia, biasa aja kali natapnya.. Sampe
bengong gitu." Ridwan meledek ku.
"Ih apa sih rid, emang gue ngeliatin
siapa?"
"Ah emangnya gue gak tau, pasti kaka baju hitam itu
kan?"
"Sotau lo rid, bukan tau!"
"Jangan bohong bel, gue dari tadi merhatiin setiap
kaka itu yang beraksi lo selalu tersenyum, ditambah tepuk tangan senang."
Ledek ridwan
"Haaa.. Apa sih rid, orang nepukin semuanya, emang gak boleh senyum?" Ya ku akui aku memang sejak tadi memberikan tepukan kecil untuk kaka itu. Nyaris tak terdengar suara tepukannya selain diriku yang merasakan suaranya. Mungkin ridwan sangat memperhatikan, jadi walaupun tak terdengar aku bertepuk, dia melihat gerakan tangan kecil ku untuk tepukan kecil itu.
"Haaa.. Apa sih rid, orang nepukin semuanya, emang gak boleh senyum?" Ya ku akui aku memang sejak tadi memberikan tepukan kecil untuk kaka itu. Nyaris tak terdengar suara tepukannya selain diriku yang merasakan suaranya. Mungkin ridwan sangat memperhatikan, jadi walaupun tak terdengar aku bertepuk, dia melihat gerakan tangan kecil ku untuk tepukan kecil itu.
"Hmm.. Bebas deh, tadinya sih mau dikenalin
tuh."
"Yee lo merhatiin aku banget ya rid, sampe-sampe
hal tepukan kecil aja kamu tau hehe." Giliranku meledek ridwan
"Pede lo bel, udah sore nih mau cabut gak?"
"Pede lo bel, udah sore nih mau cabut gak?"
"Cabut kemana?"
"Ke rumah masa depan."
"Hih gamau ah, emangnya masa depan gue sama lo?"
"Maksud gue kuburan, siapa juga yang mau masa depan
bareng lo."
"Banyak!"
"Sebanyak jumlah tunanetra?"
"Yakali, cape ah diledek mulu. Yuk cabut." Aku berdiri sambil membersihkan rumput yang menempel di celanaku.
"Yakali, cape ah diledek mulu. Yuk cabut." Aku berdiri sambil membersihkan rumput yang menempel di celanaku.
"Gak nunggu kaka baju hitam itu
selesai?"
"Gak usah, gak bakal kenal sama gue."
"Ini kode bukan ya?" Sambil menatap ku ke
atas.
"Kode di hidung noh banyak."
"Itu komedo beliaaa!!!" Ridwan mencubit hidungku,
ya begitulah kebiasaannya.
"Sakitttt!" Ku singkirkan tangannya dari hidung
permataku yang mancungnya melebihi pinokio hehe
"Jangan lebay deh bel, bilang aja mau
dimanjain."
"Ih geliiiiii......"
"Hahaha"
Sepanjang perjalanan aku dan dia tertawa,
menertawakan ledekan-ledekan yang saling kami lemparkan
berganti-gantian.
"Eh rid, serius kenal kakak baju hitam
itu?"
"Iya kenal."
"Kok nggak nanya kenapa sih?"
"Gak ah, gue ngga mau tau."
"Ngga mau tau atau emang udah tau kalo gue bakal
minta..."
"Di kenalin kan?"
"Nah, ganteng banget deh sahabat gue yang satu ini
haha."
"Hmmm.. Gimana ya? Duhhh.."
"Ah ridwan, ayolah pleaseee."
"Susah bel."
"Susah kenapa?" Aku
mulai memasang tampang polosku yang berkombinasi dengan memohon dan memelas
kepada ridwan.
"Susah nolak permintaan lo."
"Maksudnya? Gue nggak ngerti."
"Lolaaaa... Pe'er aja buat nanti." Katanya
tersenyum.
"Oh iyaa ngerti, berarti mau ngenalin dong? Yes,
asikkk." Reflek ku peluk ridwan dengan tidak peduli laki-laki atau wanita kah
dia. Intinya dia laki-laki yang sudah seperti kakak kandung ku sendiri, dia
tidak pernah rella aku menangis. Jangankan menangis, sedih atau pasang muka
melas saja dia sudah curiga bahwa hatiku di patahkan seseorang
Lalu di dua jalan yang berbeda arah, kami
memisahkan diri. Karena kami tidak tinggal dalam satu rumah.
Tiba dirumah aku segera membersihkan diriku dari
kuman-kuman nakal seharian ini. Setelah mandi makan malam, dan mulai berkelahi
dengan tugas-tugas yang menunggu sejak tadi. Mungkin kalau buku punya mulut dia
akan berkata "Hei kakak, cepat selesaikan kami. Kami tak ingin diberi harapan
palsu, selalu menarik-ulur niatan mengerjakan kami dengan kegiatan lain." Kataku
dalam hati.
"Belia... Bel.."
"Iya mah? Kenapa?" Mengalihkan pandanganku ke arah
mamah.
"Tugasnya masih banyak? Ini sudah larut malam
nak."
"Nggak kok sedikit lagi, mamah tidur duluan
aja."
"Yaudah, tapi jangan dipaksa kalo udah ngga
kuat."
"Iya mamah, siap....!" Ku berikan sikap hormat
bendera kepada mamah, mamah tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu menutup
pintu perlahan-lahan.
Matahari pagi ini lebih cepat ke atas, lebih cepat
membangunkan manusia-manusia yang tertidur, lebih cepat membuat ku kalang kabut
bergegas berangkat sekolah karena merasa sudah sangat siang. Mungkin bukan hanya
aku, tapi mamah dan papah juga.
Aku menunggu ridwan di depan pagar sekitar
10menitan, lama sekali bagiku disaat situasi sedang merasa terburu-buru
sekali.
"Yuk bel, sory kesiangan."
"Iya ngga papa, yuk."
"Ngebut gak nih?"
"Ngga usah macem-macem, masih mau ujian gak lo
haha."
"Haha iya yah, yaudah pelan-pelan
aja."
"Nggak pelan kaya gini juga rid." Melihat kilometer
motornya saja hanya 20km naik sedikit.
"Katanya ngga usah ngebut kan, yaudah pelan
deh."
"Tapi ini pelannya kebangetan! Cepet ah rid gue
gamau telat, ntar jodoh gue telat juga datengnya."
"Ye bisa aja lo, iya iyaaa."
Kami sampai disekolah tepat 15 menit sebelum masuk,
syukurlah tidak terlambat. Dan kami langsung berpisah di lorong koridor kelas
bawah, aku naik ke atas sedangkan ridwan langsung masuk kelas. Jam istirahat pun
kami berdua, menghabiskan bekal dari mamah yang sengaja disediakan untuk kami
berdua.
Sepulang sekolah aku berdiam sebentar ditaman
sekolah untuk melihat kantin itu, adakah kaka itu lagi? Aku berharap-harap cemas
setiap detik melihat kantin itu, berharapn aku menemukan sosoknya pindah berada
disampingku. Namun semua itu hanya harapan.. Kita tidak akan pernah saling
bersampingan menatap indahnya kehidupan apabila kita bersama.
"Belia! Lo tuh ya, ditunggu dibawah ngga taunya
masih bengong disini."
"Ngagetin aja deh lo rid, sabar ya sebentar
lagi."
"Mau ngapain sih bengong disini? Nungguin kakak itu
lagi?"
"He'emmm." Aku sedikit mengangguk kan
kepala.
"Dia nggak ke situ hari ini."
"Kok lo tau?"
"Kan gue bilang, gue kenal dia belia."
"Terus dia kemana?"
"Mau tau?"
"Bangetttt!."
"Bilang dulu kalo gue tampan dan lo sayang banget
sama gue haha."
"Iya iya ridwan lelaki tampan pelindung gue
sekaligus orang yang gue anggep kakak kandung gue. Gue sayang banget sama
elo."
"Hahaha kata-kata lo emang paling bisa. Makanya
turun kalo mau tau."
"Turun kebawah nih?" langkah demi langkah ku jatuh
diatas tangga dan masih sama ridwan tak memberi tau dimana kaka
itu.
"Ini udah dibawah, katanya mau kasih tau dia
dimana?" Aku bertanya lagi.
"Coba liat ke arah parkiran."
Spontan aku berbalik badan, menutup bibirku dengan
kedua tanganku, tangan yang jemarinya seketika mendingin.
"Gimana? Gue gak bohongkan?"
"Ridwan, gue takut."
"Ngga usah takut, dia baik kok."
"Bukan, gue takut salah tingkah."
"Ngga usah salting, gue udah jelasih tentang lo
semuanya secara detail."
"Tapi..."
"Ngga usah tapi-tapi, kemarin kebelet banget mau
kenalan. Tuh sekarang udah gue siapin." Ridwan tertawa.
"Temenin juga."
"Ngga bisa, kebetulan gue ada janji, jadi lo pulang
sama dia yah." Ridwan menarik tanganku, seolah mengajak aku berjalan benar-benar
tertuju pada pria yang ku kagumi dalam waktu singkat.
"Far, gue titip belia yah. Anterin dia sampe
rumahnya, jagain dia." Titip ridwan kepada kakak itu.
"Oh iya rid, beresss."
"Yaudah gue duluan bel, far."
Lalu ridwan dan kakak itu bersalaman, berjabat
tangan persahabat seperti sudah lama saling kenal. Aku hanya melaimbaikan
tanganku dan menjawab "Hati-hati
ridwan."
"Hai belia..."
"Hai juga, namanya siapa ya? Soalnya ridwan ngga
pernah kasih tau nama kamu."
"Oh haha gitu, kenalin aku farel." Farel
mengulurkan tangannya.
Aku tersenyum dan membalas uluran tangannya dengan
uluran tanganku, kami saling berjabat. Tidak aku sangka aku benar-benar dapat
merasakan dirinya dekat denganku. Ini bukan mimpi, aku benar-benar merasakan degupan
detak jantungku yang rasanya tak menentu. Dia berdetak lebih cepat dari
biasanya, membuat aku lelah bernafas secara teratur.
"Aku bel..."
"Ngga usah sebut lagi, aku udah tau kok belia."
"Hehe." Aku pun tersenyum merona menahan malu.
"Aku anter pulang bel?"
"Hmm, boleh rel."
"Mampir makan dulu yah, laper."
"Yah, yaudah deh."
Kak farel benar-benar pria romantis, sepanjang waktu kami makan, dia yang mengambilkan aku sendok, garpu, bahkan memperhatikan ku untuk menghabiskan makanannya. Sampai rumah pun dia masih mengingatkan ku untuk lekas membersihkan diri, menyelesaikan tugas, menghabiskan susu buatan mama, dan melarang ku untuk tidur larut malam. Oh tuhaaannnn.. Dari mana kak farel tau segala aktivitasku? Yang selama ini memperhatikan dia kan aku? Mengapa dia yang lebih tau tentangku? Mungkin ini semua atas perbuatan ridwan. Ridwan memang begitu menyayangiku hingga tak ingin terus menerus melihatku menjadi wanita pengagum rahasia kak farel.
Berbulan-bulan kami saling mengenal lebih dekat dan lebih jauh, hingga aku melupakan sosok ridwan yang selalu ingin melihatku bahagia. Aku melupakannya, larut dalam kesenangan perkenalan ini, aku terlalu fokus pada satu titik tanpa memperhatikan titik lain yang lebih mengenalku. Belakangan ini tak ku dengar kabar ridwan, dia menyembunyikan dirinya. Susah kuhubungi, di sekolah pun tidak ada sosok dirinya yang senantiasa meledek ku. Tiba-tiba aku mengingatnya, aku merindukan dirinya..
Di sebuah cafe, aku bertemu farel, kami mengobrol seputar ridwan yang menghilang bagai di telan bumi. Kami bertemu, kami duduk berhadapan. Ku genggam gelas teh hangat yang sejak tadi tidak aku minum sedikitpun. Mulai ku bukan pembicaraan dengan menanyakan dimana keberadaan ridwan.
"Farel, kamu beneran ngga tau ridwan dimana?"
"Ngga bel, dia ga bilang apa-apa sama aku."
"Kamu kan deket sama dia, masa ngga tau sih?" Menatap farel dengan pandangan penuh keseriusan.
"Ya aku kan ngga selalu update tentang dia bel."
"Seenggaknya kamu taulah keadaannya terakhir kalian ketemu."
Sambil menunduk farel menjawab "Dia baik-baik aja."
"Nggak mungkin baik-baik aja tapi tiba-tiba menghilang."
"Ya aku mana tau bel!"
"Apa sih yang kamu tau rel? Semuanya kamu jawab nggak tau!"
"Kok kamu sewot sih bel? Kamu juga deket kan sama dia? Kenapa harus aku? Kamu sendiri kenapa ngga tau!"
"Nggak gitu maksud aku rel, maaf aku emosi."
"Iya ga papa." Farel menjawab dengan nada yang begitu kesal.
"Yaudah terus gimana?"
"Gimana apanya?"
"Iya ridwan dong rel."
"Gak tau lah." Kali ini farel terlihat masih kesal karena sikap ku tadi.
"Farel maaf, aku emosi, aku terlalu khawatir rel."
"Gini aja, aku cari tau ke temen tongkrongan, kamu cari tau ke salah satu keluarganya."
Aku pun mengangguk, mengiyakan ide farel yang ku fikir cukup adil dan mempercepat pencarian ini.
Berhari-hari mencari keberadaan ridwan, tapi hasilnya tetap sama. Kami tak menemukan ridwan di plosok mana pun. Aku merindukannya, ingin bertemu dengannya, aku menyesal melupakan kebaikannya. Padahal dia orang yang selalu ada untuk ku. Tidak lama kemudian saat aku sedang berbaring dikamar memikirkan kemana lagi aku harus mencari ridwan, aku menemukan sepucuk surat di bawah kotak musik pemberian ridwan dulu, surat itu terbungkus sangat rapih, sangat indah dengan pita merah diatasnya. Tanpa berfikir panjang aku segera membuka surat dari ridwan dan lekas membacanya dengan terburu-buru..
Baru beberapa baris aku membaca, isinya sudah sangat mengejutkan ku! Ridwan mengatakan dirinya sudah hidup berumah tangga, dia di karuniai sebuah janin oleh tuhan satu bulan terakhir ini. Dia menikah tanpa sepengetahuanku karena dirinya merasa tak ku butuhkan lagi, merasa tak ku ingin kan lagi kehadirannya. Ridwan menghamili sarah teman sekolah kami, dia khilaf karena pada saat itu akal sehatnya begitu kacau karena merasa ku tinggalkan, hingga akhirnya ridwan mabuk di club malam dan bertemu sarah yang kebetulan sangat rajin mengunjungi tempat itu setiap malam tanpa memikirkan tugas sekolahnya.
"Ridwan, kenapa selama ini lo nggak bilang kalo lo ada perasaan sama gue? Kenapa gue tau setelah lo kasih surat ini?"
"Kenapa nak? Mamah ngga sengaja denger kamu nangis." Tiba-tiba mamah ada disampingku sambil mengelus pundak ku.
"Belia sedih ma."
"Kenapa sayang?"
"Ridwan mah...."
"Dia kenapa? Tarik nafas dulu, baru ceritain semuanya ke mama nak."
"Mama baca surat ini aja, ini dari ridwan ma."
Mendengar kabar ini, aku bagaikan terlempar melambung tinggi dan di hantam bebatuan besar, sangat sakit menerimanya. Bagaikan di terpa ribuan masalah, sangat berat menerimanya, hingga akucukup sabar menghaapi ini. Menghadapi masalah yang ku timbulkan karena diriku sendiri. Entah hal apa yang menerpa kisah ini, tak sanggup ku menahan derai air mata yang mengalir karena penyesalan ini. Menyesal tak ada untuk ridwan di saat dia benar-benar membutuhkan aku.
Kini ridwan akan menjadi seorang ayah, dan aku akan dipanggil tante oleh anaknya kelak. Tanpa ragu aku menghubungi farel, dan menceritakan semuanya. Lalu aku dan farel bergegas mencari alamat yang di cantumkan di dalam surat itu. Dan kenyataannya pun pait, mereka tinggal di tempat yang begitu terbatas ukurannya, mereka harus bekerja sambil sekolah, belum lagi mereka harus menutupi status dirinya masing-masing yang sudah memiliki ikatan menikah.
Tiba di alamat itu aku melihat ridwan yang sedang membersihkan baju-baju. Berlari secepat mungkin menghampiri ridwan itu yang pertama aku lakukan saat melihat dia.
"Lo kemana aja! Gue khawatir rid."
"Disini aja ko bel."
"Maafin gue ridwan, gue nyesel! Gue gak mau kaya gini, gue mau kita baik-baik aja."
"Iya kita baik-baik aja kok bel."
Cara dia menjawab masih sama, tetap berusaha membuat suasana tenang sebesar apapun masalah menghampirinya.
Memeluk ridwan begitu erat tak ada salahnya, karena aku benar-benar tidak ingin kehilangannya lagi. "Aaaah ridwan gue nyesel! Gue minta maaf dan gue janji..."
Belum selesai aku berjanji, ridwan melepaskan tanganku yang memeluk erat tubuhnya. "Udah bel ngga papa, lupain aja ya, jangan dibahas lagi. Yuk masuk ajak farel sekalian, ada sarah kok di dalem."
Hanya melamun, tak percaya ridwan setegar ini, dan aku harus bertubi-tubi membungkam tanpa kata melihat situasi ini.
Namun apa daya seorang aku yang tidak bisa memutar kesalahan ini menjadi kebenaran, menyesal pun tak ada gunanya, tapi setidaknya dengan menyesal aku merasa aku pantas menebus dosaku. Tuhan hanya menyembunyikan ridwan dari kami semua, tuhan tidak benar-benar menghilangkan ridwan. Pada akhirnya aku dan farel pun berjanji akan membatu ridwan dan sarah membesarkan anaknya kelak :')
Jumat, 19 April 2013
Tak akan ada lagi.
Bisa kah kita bertemu jika kamu saja bukan milikku lagi? Apa aku hanya dapat melihat dirimu lewat gambar-gambar kecil yang ku simpan selama kita saling memiliki? Rindukah kamu dengan kita? Iya, kita yang selalu mencoba memperbaiki kesalahan ketika salah satu dari kita bersalah. Bahkan kita mencoba sabar ketika salah satu dari kita tidak ada yang mau di salahkan.
Apa kamu lelah untuk terus mencoba? Hingga kamu harus pergi dan aku harus tetap mencoba ; mencoba merelakan kamu, mencoba menerima keputusan kamu dan mencoba mencari pengganti kamu. Kamu pergi bukan berarti masa depanku pergi.
Bisakah kita yang sudah berbeda jalan dan tujuan bertemu kembali? Membayangkan kamu datang dan meminta ku untuk kembali saja sudah cukup senang. Senang hingga aku tak mampu menahan tarikan dari bibirku yang menciptakan sebuah senyuman tulus. Jika dia meminta ku kembali, aku akan tersenyum tulus, tapi sayangnya dia tidak pernah datang dan memintaku kembali, dan akhirnya aku hanya berpura-pura tersenyum.
Belajarlah membedakan senyuman wanita, wanita pintar berpura-pura tegar, berpura-pura bahagia, bahkan berpura-pura menjadi orang lain demi dicintai kekasihnya. Walaupun dia tau, menjadi seperti orang lain bukanlah hal yang baik untuknya. Tapi, wanita tidak pintar untuk berpura-pura menyayangi atau mencintai, karena sekalinya dia sayang, dia akan benar-benar menyayangi.
Berharap? Ya aku berharap, berharap kamu tidak pernah menemukan wanita tulus selain aku. Biarkan wanita itu tulus mencintai pria lain, jangan kamu. Dan jangan renggut harapan besarku..
Aku memang berharap, tapi jangan berikan harapan itu jika kamu menemukan pasangan yang kehadirannya membuat kalian sama-sama merasakan ketulusan. Karena jika itu terjadi, aku yakin aku juga akan menemukan pria tulus untuk ku.
Kini bertemu denganmu tak akan ku harapkan lagi, sudah tak akan ada kata "MENUNGGU" lagi. Kamu benar-benar pergi, dan aku juga harus benar-benar pergi..
Kini kepura-puraan itu tak akan untuk mu lagi, tak akan untuk kita lagi.
Egois, kecewa, menangis, tertawa, menyesal, mencoba, saling menyalahkan, candaan, setia, percaya kini tak akan ada lagi di antara kita, kamu menghilang, aku menghilang, begitu pun dengan semua itu yang ikut menghilang bersamaan dengan hilangnya "KITA."
Kita pergi meninggalkan kenangan di tengah-tengah perpisahan kita, hanya mampu melihat kita dalam sebatas gambar.Gambar yang kini ku simpan dalam meteran debu yang akan menimbunnya.
Apa kamu lelah untuk terus mencoba? Hingga kamu harus pergi dan aku harus tetap mencoba ; mencoba merelakan kamu, mencoba menerima keputusan kamu dan mencoba mencari pengganti kamu. Kamu pergi bukan berarti masa depanku pergi.
Bisakah kita yang sudah berbeda jalan dan tujuan bertemu kembali? Membayangkan kamu datang dan meminta ku untuk kembali saja sudah cukup senang. Senang hingga aku tak mampu menahan tarikan dari bibirku yang menciptakan sebuah senyuman tulus. Jika dia meminta ku kembali, aku akan tersenyum tulus, tapi sayangnya dia tidak pernah datang dan memintaku kembali, dan akhirnya aku hanya berpura-pura tersenyum.
Belajarlah membedakan senyuman wanita, wanita pintar berpura-pura tegar, berpura-pura bahagia, bahkan berpura-pura menjadi orang lain demi dicintai kekasihnya. Walaupun dia tau, menjadi seperti orang lain bukanlah hal yang baik untuknya. Tapi, wanita tidak pintar untuk berpura-pura menyayangi atau mencintai, karena sekalinya dia sayang, dia akan benar-benar menyayangi.
Berharap? Ya aku berharap, berharap kamu tidak pernah menemukan wanita tulus selain aku. Biarkan wanita itu tulus mencintai pria lain, jangan kamu. Dan jangan renggut harapan besarku..
Aku memang berharap, tapi jangan berikan harapan itu jika kamu menemukan pasangan yang kehadirannya membuat kalian sama-sama merasakan ketulusan. Karena jika itu terjadi, aku yakin aku juga akan menemukan pria tulus untuk ku.
Kini bertemu denganmu tak akan ku harapkan lagi, sudah tak akan ada kata "MENUNGGU" lagi. Kamu benar-benar pergi, dan aku juga harus benar-benar pergi..
Kini kepura-puraan itu tak akan untuk mu lagi, tak akan untuk kita lagi.
Egois, kecewa, menangis, tertawa, menyesal, mencoba, saling menyalahkan, candaan, setia, percaya kini tak akan ada lagi di antara kita, kamu menghilang, aku menghilang, begitu pun dengan semua itu yang ikut menghilang bersamaan dengan hilangnya "KITA."
Kita pergi meninggalkan kenangan di tengah-tengah perpisahan kita, hanya mampu melihat kita dalam sebatas gambar.Gambar yang kini ku simpan dalam meteran debu yang akan menimbunnya.
Kamis, 18 April 2013
Serupa tapi Tak Sama ( Edisi 2 )
Handphone ku bergetar Dret... Dret... Dret... menandakan panggilan masuk dari teman lama ku intan.
"Hal... Hal.. hallo tan" suara ku bergetar menahan tangis.
"Loh lo nangis lagi key?"
"Ngga kok gue cuma lagi flu aja"
"Lo bohong! Keylan,sampe kapan lo mau terpuruk di dalam air mata!"
Nadanya terdengar membentak, tapi aku tau itu demi menghilangkan tangisanku.
"Sampe gue terbiasa tanpa irsa tan"
"Irsa? ada kabarnya juga gak! mati kali dia key, basi banget caranya!"
"Intan! lo gausah khawatirin gue ya, gue baik-baik aja kok" aku mencoba meyakinkan intan
"Tapi gue mau kita yang dulu, gue kangen kita ceria lagi key"
"Nanti tiba saatnya kita kaya dulu lagi" aku tersenyum sendiri untuk kata kita
"Janji yah? kalo besok kita liat buku gimana?
"Wah ide bagus! aku juga bosen dikamar terus"
"Nah loh kan,makan tuh galau haha" Dari sebrang sana terdengar intan menertawakanku
"Yakali kalo bisa dimakan udh gue abisin biar gak ada lagi"
"Oh iyaaa, malah kembung sama air mata ya hihi, yaudah sampa jumpa key"
"Ngeledek lo mah ah, iya sampai jumpa juga"
Semenjak irsa meninggalkan ku, aku tidak bisa terus menerus mengunci diri ku sendiri dan terpuruk menjadi orang tak berguna yang seakan mati.
"Tan intan! Coba liat cowok itu"
"Yang mana?" intan mencoba mencari disekitar toko
"Itu tuh yang pake baju merah" terpaksa dengan jari aku menunjuk-nunjuk lelaki itu
"Oh itu, kok dia......"
"Pasti lo mau bilang mirip irsa kan?"
"Nah iya pas banget!"
Aku melihat sosok lelaki yang tidak asing,lelaki itu seperti irsa yang suka membaca komik. Mungkin hanya halusinasi, atau mirip dengan irsa? tapi dia menatap ku dengan sejuta diam tanpa kata salam. Lelaki itu menatap kami tajam-tajam dan sempat terbaca bibirnya bergerak mengucapkan nama ku "KEYLAN".
Dalam hati aku mengucap "Tatapannya? aku kenal tatapan matanya, bukan! itu bukan irsa! nggak mungkin! dia udah pergi jauh ninggalin semuanya" ku yakinkan diriku dalam hati.
"Tan cari toko lain aja yuk"
"Biasanya lo beli disini kan key" dengan serius membaca bukunya
"Ayolah please tan!" sambil ku tarik tangannya hingga berlari-lari kecil menuju ke luar toko
"Sabar keylan, gue gak bisa jalan cepet begini"
"Oh iya gue lupa, huh untung kita udah aman tan"
"Aman sih, tapi kaki gue lecet tau key!"
"Kenapa dia mirip banget sama irsa ya?" aku bertanya tanpa memperdulikan intan
Kemudian aku mendapat pesan singkat dari nomor yang tidak aku kenal "Selamat siang keylan, aku harap kamu udah maafin aku" Aku ternganga membacanya, karna pesan itu seperti pesan terakhir irsa sebelum dia benar-benar pergi.
"Maaf? emang ini siapa?"
"Ini aku irsa, kamu udah lupa ya?"
"Ngga, inget kok sedikit-sedikit" tapi aku ragu, apakah dia irsa atau bukan?
"Bisa ketemu nanti sore jam 4 ditempat biasa?"
"Tempat biasa? iya bisa" pesan sudah ku kirim bersama dengan rasa penasaranku.
Taman 16:15
Aku datang terlambat, mungkin dia sudah menunggu sangat lama, tapi terasa sangat cepat untuk ku.
"Hey key" sapa dari seseorang di sebrang sana
"Hey, maaf aku telat" sambil sibuk membenarkan tas tanpa menatapnya sedikit pun.
"Gak papa kok aku tau kamu sekarang sibuk"
"Ngga kok biasa aja"
"Kamu mau pesan coklat hangat?"
Dan aku menatapnya, dia masih ingat kesukaan ku. Dia benar-benar irsa tapi bukankah dia sudah pergi dari ku? untuk apa kembali? ingin membuat ku menangis lagi? mengacaukan hati ku lagi? dia tidak merasakan sulitnya melupakan! "Hey keylan, aku tanya kamu pesen coklat hangat kan?
"Hah? iya iya coklat hangatnya satu"
Dengan coklat hangat menemani ku, dan kopi menemani irsa, kami menghabiskan waktu membicarakan hal selama kami tak bertemu.
"Udah jam 5, aku harus ngelukis sa"
"Kamu melukis? sejak kapan?" tanyanya heran
Aku tersenyum seperti terlihat tanpa beban, dan menjawab "Sejak kamu pergi meninggalkan aku"
"Oh, mau aku sebrangin?"
"Ngga usah, sekarang aku bisa sendiri"
"Sejak kapan juga kamu bisa nyebrang sendiri?" Aku hanya tersenyum tipis dan sedikit menundukan kepala, lalu pergi meninggalkan irsa.
**
Hari demi hari irsa semakin dekat dengan ku, aku masih merasakan yang aku rasakan saat pertama kali pendekatan. Waktu terasa begitu lambat, ingin cepat memiliki tapi tak sanggup mengungkapkan karna status ku sebagai seorang wanita. Semuanya terasa indah, deg-degan jika didekatnya, senyum-senyum sendiri, memperhatikan dari jarak jauh, dan mencari tau segala aktivitas terbarunya.
Akhir-akhir ini irsa sering menjemput ku pulang kuliah dengan kendaraan kesayangannya, rasanya seperti flashback saat pertama dekat. Aku ragu untuk memegang lingkaran pinggangnya, tapi di lain sisi aku takut tiba-tiba jatuh.
"Irsa? kamu tau aku takut jatuh?"
"Tau, tapi aku nunggu kamu meluk aku sendiri"
"Kenapa gitu? yaudah aku naik taksi aja"
"Eh aku bercanda key, sini tangan kamu" Irsa menarik tangan ku mengarah ke lingkaran pinggulnya, hingga akhirnya tangan ku sangat kaku mengikuti arahnya.
"Aku kaku sa..." ku katakan dengan rasa malu yang begitu hebat
"Biasanya juga dulu kamu gitu, aku bawa ngebut sedikit aja udah meluk, aku sampe kehabisan napas"
"Ih kamu jangan ngeledek!" Mungkin pipi ku saat ini sudah berubah menjadi merah jambu
"Makanya anggep aja kita kaya dulu"
Aku mengerutkan keningku dan bertanya "Kaya dulu? maksudnya?"
"Hah? kaya dulu? ngga,kamu salah denger mungkin" irsa tetap stay cool berkonsentrasi meyetir motor hingga kami sampai di tempat tujuan.
Aku dan irsa duduk dibawah pohon yang rindang dan bersuasana sunyi tenang hanya ada aku, irsa, suara gesekan daun, dan burung yang sedang berbincang. Oh betapa sia-sianya jika waktu ini hanya kamu habiskan untuk berdiam diri, terpaksa aku membuka sebuah pembicaraan.
"Hmmm..... Irsa..."
"Iya key?" irsa menoleh ke arah ku dan tatapan ku hanya lurus tertuju pada satu pohon.
"kamu tau ngga waktu kamu ninggalin aku, aku sedih banget?"
"Iya aku tau kamu sedih"
"Terus kamu tau gak? aku itu sebenernya mau nahan kamu biar ngga pergi?"
"Terus kenapa gak tahan aku?"
"Kalo aku tahan kamu, sama aja aku nahan kebahagiaan kamu" masih tetap pada pandangan yang sama
"Kenapa gitu?"
"Karna pilihan kamu pasti ke inginan kamu" aku mengayunkan kaki ku
"Terus kamu tau gak kenapa aku pergi?"
"Tau,kan karna kamu bosan sama aku" sahut ku meledek pertanyaan irsa
"Bukan, kamu mau tau alasan sebenernya?"
"Kalo kamu kasih tau aku, apa gunanya?"
"Kamu harus tau yang sebenernya key"
"Haha kamu itu lucu ya sa, itu udah masa lalu,lupain aja" aku tertawa menggap semua masa lalu itu sebuah lelucon.
"Ini nggak lucu key! aku mau ngomong serius"
"Ha? serius?" wajah ku yang tadi tertawa lepas menjadi berubah
"Iya serius! dan kamu harus dengerin aku"
"Ah apaan sih, jangan bercanda deh!"
"Tatap mata aku key!"
"Ga mau ah, apaan sih!"
"Key tatap aku!" irsa mengubah arah ku dengan kedua tangannya menjadi tertuju pada dua bola matanya. Aku hanya diam menatap matanya, hatiku merasakan sesuatu yang aneh, yang ganjil, yang menurut ku ini sangat buruk.
"Kamu udah maafin aku key?"
"Udah dari dulu aku maafin kamu" dengan senyum yang mengembang
"Kamu tau aku bukan irsa?
"Setau aku irsa cuma satu, yaitu kamu"
"Kamu ga tau kalo irsa punya kembaran?"
"Ngga, kamu ga pernah cerita ke aku"
"Jangan panggil aku irsa lagi key!"
"kok tiba-tiba kamu ngomong gitu?!"
"Aku punya alasan!"
"Apa lagi? mau ninggalin aku lagi? iya kan!!"
"Bukan key!"
"Terus apaan? gue tuh capek ya liat lo dateng pergi dikehidupan gue"
"Ini bukan masalah dateng pergi"
"Lo basi sa! dulu juga lo giniin gue kan, skarang lo mau gitu lagi!"
"Bukan keylan! kasih kesempatan aku ngomong"
"Sekarang waktunya gue yang ngomong!"
"Iya kamu bebas mau maki-maki apa aja ke aku"
"Gausah sok pasrah! percuma ga akan ngilangin sakit hati gue"
"Terus apa lagi?"
"Lo itu ga beda jauh sama yang namanya benalu! pengganggu ketenangan jiwa gue!" "Aku boleh ngomong sekarang?"
"Gak penting! gue cabut! muak lama-lama sama lo!"
"Key tunggu!" irsa menarik tangan ku, aku menghentikan langkah ku tapi tak menoleh ataupun menjawab. Dengan pelan irsa mengatakan "aku bukan irsa!"
Terkejut! aku sangat terkejut! "Kamu bohong! kamu bercanda sa!" Aku mendengarkan dengan hati yang begitu gemetar, rasanya tak karuan, bertanya siapa dia jika bukan irsa. Apa maksud semua ini? kenapa irsa datang pergi dan datang kembali hanya untuk membuat ku kecewa. Tidak adakah niat baik untuk melanjutkan tawa di hidup ku?
"Maaf key, aku kembaran irsa, nama ku reysa. Beberapa bulan yang lalu irsa nyuruh aku buat nyari kamu dan nyamar seolah aku adalah irsa, cuma buat nanya kamu udah maafin dia atau belum"
"Terus irsa mana? kenapa dia gak nanya sendiri? pengecut banget!"
"Dia udah pergi jauh key"
"Seenaknya aja di pergi, lepasin tangan aku rey! aku mau cari irsa!!" aku memberontak ingin berlari
"Dia udah gk ada!"
"Maksud kamu apa?!"
"Irsa udah meninggal keylan!"
"Apa rey? kamu pasti salah orang!"
"Aku benar,dia kena penyakit kanker paru-paru"
"Nggak! Nggak mungkin secepat ini rey!"
"Semua terjadi secara tiba-tiba"
"Tapi dia gak bilang sama aku!"
"Dia gamau buat kamu sedih, dia mau kasih tau kamu, tapi kamu lagi marah besar. Dia pura-pura ga nyaman sama kamu,tapi dalam hatinya sangat nyaman key, dia sayang kamu lebih dari menyayangi dirinya sendiri"
kepala ku yang tadinya menatap mata reysa yang tingginya lebih tinggi dari ku, perlahan tertunduk mematung tak berdaya, tubuhku di buat lemas seketika, wajah ku memucat tak mempercayai irsa telah pergi selamanya.
"Jangan nangis keylan"
"Aku menyesal rey" ku kepalkan kedua tangan ku menjadi satu seperti ingin menggenggam tangan irsa saat ini juga.
"Sekarang nyesel kehilangan dia?"
"Aku menyayangi dia rey, aku belum siap kehilangan dia"
"Kamu bisa anggap aku irsa key"
"Nggak, irsa cuma satu!!!"
"Kemarin irsa ada dua, sekarang dia tinggal satu. Aku siap jadi pengganti irsa, bahkan aku siap jadi diri irsa dengan beberapa perbedaan dari sifat kami"
Sepontan aku memeluk reysa, mencoba menghadirkan sebuah ketenangan. Syukurlah resya mengerti dan mengizinkan aku untuk memeluknya. Aku hanya diam tanpa berkaca-kaca mengeluarkan tangisan, aku menangis lagi, menangisi orang yang aku anggap telah hadir kembali untuk ku tapi ternyata telah pergi selamanya meninggalkan ku. Ingin ku cabik diriku sendiri, betapa bodohnya aku selama ini, aku tidak memanfaatkan waktu ku bersamanya, aku tidak mau mendengarkan alasan terakhirnya. Aku menyesal mensia-sia kan detik-detik terakhir ku bersamanya. TAMAT!
** Jadi buat kalian, jangan suka pada nurutin emosi sendiri yah, jangan pernah gamau dengerin alasan seseorang, kita itu seperti sepasang telinga yang di gunakan untuk saling mendengarkan. Dan ngasih kesempatan kedua buat seseorang hadir lagi dikehidupan kita itu ngga salah, tapi jangan terlalu berharap semuanya akan kembali seperti dulu.Setidaknya cukup dengan menerima keadaan yang ada. Oke thanks ya semuanya yang udah mau bacaaa :'D
Kamis, 11 April 2013
Indahnya kehidupan, indahnya sebelas.
Bunga yang terlihat indah tidak selamanya akan indah, dia akan layu. Mematikan dirinya sendiri demi tumbuhnya bunga baru. Lihatlah, bunga saja tidak egois kan? Mereka sanggup menghilangkan dirinya sendiri demi munculnya wujud lain. Aku ingin seperti bunga, indahnya menakjubkan, layunya dengan sebab, kematiannya bermanfaat. Indah bukan? Iya sangat indah.
Aku ingin seperti pelangi, pelangi datang setelah hujan turun. Sama seperti kehidupan ; kebahagiaan datang setelah turunnya air mata. Aku tidak bisa merasakan kebahagian jika aku tidak merasakan sakitnya menangis. Aku tidak bisa merasakan sulitnya menjaga jika aku tidak pernah merasakan kehilangan. Aku tidak bisa merasakan berharganya kesenangan jika aku tidak pernah merasakan murungnya kehilangan. Kalian tau pelangi sangat cepat menghilang? Padahal dia sangat indah di lihat? Itu sama seperti kebahagiaan yang aku dapat, sangat indah sebuah kebahagiaan, tapi baru merasakannya saja dia sudah sangat cepat menghilang, lalu di gantikan dengan kejamnya kesedihan. Tapi menurutku kesedihan tidak begitu kejam, dia baik, dia mengajarkan aku mengatasi kesedihan yang aku rasakan. Belajar dari kesedih, kesalahan, dan ke gagalan tidak salah kan?
Mendung? mendung sangat lekat dengan kesejukan. Aku suka mendung, karena jika mendung datang, kesejukan akan datang menyelimuti hari-hariku, bahkan menyelimuti diriku sendiri. Sejuk membuatku merasa tenang, membuatku berfikir jernih. Andaikan aku menjadi sejuk, aku akan datang setiap saat orang sedang kacau, setiap orang sedang stress, dan aku akan hadir lebih lama pada seseorang yang sedang di ambang kebingungan hatinya. Karena aku tau, mereka membutuhkan itu. Aku ingin menjadi seperti mendung, yang datang ketika orang-orang merasa jalan fikirannya buntu dan berusaha menghadirkan sebuah ketenangan. Meskipun orang-orang itu sudah menemukan jalannya dan menjadi lebih tenang lalu melupakan sejuk, aku sebagai sejuk tidak akan berubah sampai kapanpun menjadi panas terik matahari. Aku tetap sejuk, kokoh, dan konstan dengan diriku.
Dan apakah kalian tau indahnya ratusan cahaya yang menyala pada malam hari? Coba kalian lihat ratusan cahaya itu dari ketinggian yang sangat tinggi. Kalian pasti betah memandangi, tak terlihat sedikitpun kekotoran, yang kalian lihat hanya ratusan titik cahaya yang menyala. Ratusan cahaya menerangi milyaran manusia, sedangkan aku? Penerang untuk menunjukan jalan ke arah kamu saja tidak punya. Jika aku di pilih menjadi sebuah cahaya penerang, aku akan menerangi kamu, orang yang ku sayang dan orang yang menyayangi ku.
Aku benci kehancuran, kehancuran memang tidak selamanya buruk. Tapi bisa kah tidak ada kehancuran di hidup ini? Mereka yang hancur, berpisah, pasti masih utuh bersama jika kehancuran menghilang dan musnah. Tidak ada kehancuran jika tidak ada sebuah penghancur! Hidup ini saling menghancurkan satu sama lain. Jadi jangan heran kalo sesama aja masih tikam. Sebaik-baiknya seseorang, jika itu demi mendapatkan kebahagiaannya mengapa tidak? Tapi berfikirlah sekali lagi sebelum melakukan, kebahagiaanmu datang tidak hanya dari sana, apa yang kamu lakukan belum tentu menghasilkan kebahgiaan, bisa saja hanya menambah suatu masalah bukan? Jangan hidup seperti rantai makanan ; selalu memakan satu sama lainnya demi kehidupannya.
Aku juga ingin hidup seperti angka 11, yang di balik seperti apa pun akan tetap 11. Yang terlempar kemana pun, akan tetap membentuk dua angka yang jadi satu, yaitu 11, tidak berubah apapun yang terjadi. Dibalik ke kanan, ke kiri, ke atas bawah akan tetap 11. Sebelas ; mempunyai banyak arti bagiku, bahkan aku tidak rela jika kesedihan datang saat 11 sedang berjalan dalam detik, menit, dan jam ( waktu )
Rabu, 10 April 2013
Serupa tapi Tak Sama (Edisi 1)
Aku bukan daun berwarna coklat yang ada disekitar pepohonan tak terjaga apa lagi terawat, dan di dalam hutan yang gelap, yang sewaktu-waktu akan jatuh karena tertiup oleh hembusan angin yang terkadang menjadi daun tak menarik untuk dilihat dan akan gugur saat masanya tiba. Aku adalah seseorang yang ingin terlihat berguna untuk orang-orang di sekitar ku.
Termasuk untuk irsa yang menjadi kekasih ku 7 bulan yang lalu, aku mengenalnya cukup lama sekali, kami saling mengenal saat kami duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aku mengetahui segala kesukaannya dan segala aktivitasnya, dan juga apa saja yang membuatnya tidak suka. Dia suka kopi, suka warna merah, suka membaca komik, suka berolahraga tetapi tidak suka bergulat.
Ketika aku sedang berniat menonton dvd yang aku beli bersama irsa kemarin, tiba-tiba pintu rumah sudah terketuk oleh seseorang, dan dengan cepat aku membukakannya. Ada sesosok pria tinggi berdiri di depan pintu, manis, dengan matanya yang indah, alisnya yang hitam dan tebal, hidungnya yang mancung, dan tidak lupa seperti pakaiannya yang rapih.
"Loh,irsa kenapa dateng ngga bilang-bilang? ini kan lagi hujan"
"Handphone aku mati, jadi ngga bisa ngabarin kamu dulu, ngga papa kok kan demi ketemu kamu hehe" tawa garaunya lah yang membuat ku nyaman dengannya.
"Yaudah kamu masuk sini, aku ambilkan handuk dulu ya" Aku segera mengambil handuk untuk irsa, karna dia kedinginan dan jika dibiarkan akan sakit.
"Iya key" suaranya terdengar menggigil dan sambil melipat tangannya memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan dirinya sendiri.
"Ini handuknya sa, kamu menggigil, nanti kamu sakit"
"Terimakasih ya, ngga kok key, aku kan laki-laki jadi aku kuat" dia tertawa sambil mengelap-elap tubuhnya dengan handuk.
"Sama-sama,emang kalo cowok ngga bisa sakit? eh aku tadi mau nonton dvd yang baru kita beli kemarin, mau sekalian nemenin atau?"
"Udah pasti aku temenin key" belum selesai pertanyaan ku dia sudah menjawab.
"Kalo gitu aku nyalain sekarang ya"
"Oh iya ini aku bawain kesukaan kamu nih key"
"Waaah, kamu bawain aku coklat hangat" aku merima dengan senang hati karena aku memang tak akan menolak.
"Iya sayang, ini handuknya, aku udah mendingan"
"Aku taro dulu yah handuknya di kamar"
Setelah handuk yang digunakan irsa aku letakan dikamar, aku menuju kembali ke ruang tamu untuk menonton film, aku mengambil posisi tepat sebelah irsa, aku rebahkan badan ku di atas sofa, dan aku senderkan kepala ku di pundak irsa sambil asik menikmati coklat hangat yang dibawakan irsa. Tapi tiba-tiba irsa memanggilku "Keylan" dan menarik nafasnya sepanjang mungkin sambil memejamkan matanya sebentar, lalu membuka matanya kembali dan melihat ku.
"Kamu kenapa sa? kamu sakit?"
"Keylan, ada yang ingin aku bicarakan"
"Ngga seperti biasanya kamu mau membicarakan sesuatu tapi izin dulu sama aku, hal serius?"
"Iya key,ini masalah hubungan kita" dengan suara seperti biasanya yang lembut
"Apa? bukannya kita baik-baik aja? kita lagi ngga ada masalah kan sa?" aku bertanya dengan perasaan yang tetap tenang.
"Nggak key, mungkin masalah ini ngga pernah kamu rasain, kamu selalu nganggap hubungan kita baik-baik aja dan normal-normal aja"
Dengan perasaan yang mulai bingung aku bertanya "Lalu apa masalah kita sekarang? aku ngga measa ada hal yang ganjil dengan kita"
Aku... Aku... hmm... AK..." Irsa menggenggam tangan ku cukup kencang seperti membuat aliran darahnya terhenti seketika
"Kamu kenapa sih sa! Iya kamu kenapa? Aku aku terus!" karena penasaran yang berlebihan terpaksa aku memotong kalimatnya
"Aku minta maaf key sebelumnya, aku mohon maafin aku" sambil mengubah posisi duduknya yang kini menjadi lebih dekat dengan ku dan menggenggam lebih erat tangan ku, dia meminta maaf.
"Maaf? jangan buat aku gelisah, membuat ku bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Ada apa sebenarnya?"
"Keylan maaf kan aku, jujur ini pasti ngebuat kamu sakit,tapi aku harus bilang ini. Belakangan ini aku merasa bosan sama kamu key! Aku ngerasa hubungan kita flat banget, aku bertahan seolah semuanya baik itu karena keterpaksaan! aku terpaksa karena kamu baik"
Dengan nada yang begitu cepat dan mata yang tidak menatap ku, dengan mata yang sedikit menutup dan wajah yang dia buang dari hadapan ku, dia mengatakan semua itu.
"Apa sa?! ini beneran kamu? kamu bukan irsa kan!"
"Ini aku key, aku mohon maafin aku" sekali lagi dia mengucapkan maafnya tapi aku hanya memandangi wajahnya yang selama ini menjadi tempat ku berlindung, ada sebuah keraguan hebat yang dapat aku lihat dari cara dia berbicara, dan ada rasa bersalah begitu besar untuk dia selesaikan sendiri.
"Bukan! irsa yang aku punya ngga kaya gini, dia menyayangi ku!"
"Percayalah key ini aku irsa kekasih mu yang udah ngecewain kamu saat ini"
"Lantas jika aku baik, apa salah sa? bukan kah kamu mencari wanita baik?"
"Ngga gitu key, tapi..."
"Tapi apa? Kamu mau aku jadi orang yang nyakitin kamu supaya kamu ngga ngerasain hubungan yang datar? Apa aku harus membuat kisah kita rumit dengan berbagai kebohongan? Aku harus bagaimana sa?!" Tanya ku yang semakin bingung dan takut kehilangannya
"Aku ngga mau kamu kaya itu key, aku juga gak ngerti apa yang aku rasain sekarang"
"Kamu ngga ngerti sama perasaan kamu sendiri? kamu laki-laki sa!"
"Kamu tuh ngga tau rasanya jadi aku keylan! ini ngga semuanya salah aku!"
"Terus kamu mau salahin aku? kamu EGOIS! selama ini aku terima kamu apa adanya, aku ngga banyak nuntut, aku selalu turutin perkataan kamu, bahkan aku setia sa! kamu EGOISSS IRSA!" Aku berteriak sekencang mungkin.
Aku tidak pernah berbicara sekasar itu pada irsa, tapi hati ini sedang tidak karuan,terlalu lemah untuk menahan seluruh amarh. Lalu air mata yang di simpan sejak awal pembahsan masalah ini sudah tidak dapat di simpan, aku sudah tidak tahan untuk memecahkan kaca-kaca di mata ku yang akan menghadirkan sebuah tangisan! aku mengeluarkan air mata sederas mungkin, bukan ingin terlihat lemah di depannya, aku hanya ingin menunjukan betapa hancurnya perasaan ini saat dia mengatakan semuanya datar dan bertahan karena keterpaksaan. Bukan karena perasaannya sendiri untuk memperjuangkan ku! Air mata ku terabaikan dan tak karuan arah tetesannya, karna aku sudah tak memperdulikannya.
"Aku gak egois, aku cuma gak mau liat kamu terlalu jauh lagi untuk sakit"
"Kamu masih bilang kamu gak egois? kalau gamau kenapa kamu lakuin ini!"
"Aku tau aku salah! iya ini semua salah aku! tapi aku ngga bisa ngelanjutin semuanya"
"Kalau kamu tau kamu salah kenapa kamu mau mengakhiri!"
"Karena aku ngga mau waktu kita habis dengan sia-sia"
"Kalau ngga mau sia-sia seharusnya dari awal kita ngga usah mulai hubungan ini!"
"Ada mulai ada akhir key!"
"Aku cuma minta jangan kaya gini sa! kamu ngerti gak sih! kamu ngebuat semuanya berantakan"
Lalu irsa terdiam cukup lama, dan suasana pun menjadi hening, hanya ada suara isak tangisanku yang sangat berat untuk aku keluarkan. Tiba-tiba terdengar suara lain.... PRAAAKKK!!! Aaarrgggh!!!!
Aku memecahkan vas bunga dan berteriak seperti orang tidak waras semata-mata hanya untuk melampiaskan semuanya.
"Stop keylan! kamu itu apa-apaan sih!" dia menarik tangan ku supaya tidak melempar vas selanjutnya
"Kamu yang apaan! pecundang tau gak lo!" aku berusaha melepaskan genggamannya
"Key, kasih aku waktu buat lepas dari kamu, suatu saat aku balik lagi ke kamu, aku janji"
"Lebih baik aku ngga ketemu kamu lagi sa!"
"Jangan kaya anak kecil! kita udah gede, harusnya kamu ngertiin aku!"
"Iya aku anak kecil! tapi seenggaknya aku ngejaga perasaan kamu!"
"Masih ada yang harus aku jelasin ke kamu"
"Cukup! aku ngga mau dengerin lagi! kamu pergi sana gak usah balik lagi kesini!" aku mengusir dia dari hadapan ku sambil mendorong badannya dan menangis, aku hanhya menatap televisi dengan bersamaan mengalirnya air mataku.
"Fine aku pulang, aku pergi, aku ngga bakal balik lagi kesini, jaga diri kamu baik-baik key, kamu jangan nangis lagi ya, aku gak mau liat kamu cengeng, kamu kuat dan aku ngga pantes kamu nangisin, pesan terakhir aku tolong maafin aku ya keylan. Selamat tinggal"
Baru saja irsa membalikan badannya dan belum sempat dirinya menghilang ditelan pintu, aku segera berlari menuju kamar dengan perasaan yang bagiku sangatlah bodoh! Padahal ingin rasanya ku peluk dirinya dari belakang dan menahan dia agar tidak benar-benar pergi, aku masih menginginkannya ada disamping ku,ingin canda dan tawa kita,ingin melihat dia ada untuk ku. Tapi aku tidak sanggup terlalu lama memperlihatkan air mataku.
Aku melempar pintu sekencang mungkin lalu menguncinya dan menyenderkan dibelakang pintu hingga aku perlahan-lahan terposisi duduk, memeluk kedua lutut ku, ku tundukan kepala ku, lalu ku tuangkan seluruh tangisan ku yang lebih memecah hingga suasana kamar menjadi tak karuan. Aku menjerit-jerit dalam hati "Kamu egois sa! kamu jahat! kamu tega! kamu ingkarin janji kamu! liat aku menangis sa,liat aku gadis yang ngga pernah kamu buat menangis sekarang menjerit-jerit kesakitan! aku benci sama kamu!" Aku ucap kata-kata itu berulang kali hingga aku terlelap tidur karna lelah menangisi semuanya.
***
Kurang lebih 3bulan aku tidak dapat melupakan irsa, irsa tak kunjung ada kabar setelah pertengkaran itu, dan segala aktivitas ku merasa tak berarti, apa lagi berguna. Aku malas-malasan, yang aku inginkan hanya cepat pulang dari kuliah dan menyendiri di kamar. Untuk apa lagi jika bukan untuk mengingat irsa? melihat barang-barang darinya, memandangi foto kita sewaktu masih bersama. Tetapi aku pun tidak sudi lagi untuk menghubunginya meskipun aku merindukannya. Aku terlalu sakit, terlalu mudah untuk dia buat menangis!!
To be continued....
Selasa, 09 April 2013
Mereka..
Selamat siang, selamat menikmati teriknya panas matahari yaaa, sepanas ngeliat mantan taken sama pacar barunya hihihi :')
Mau ngebahasa tentang temen dekat nih, pasti pada punya temen deket kan? Temen yang biasa di ajak curhat, di ajak beli ini itu bareng, di ajak kemana mana bareng. Mereka tuh apa ya, bagi gue temen deket itu the best lohhh.. Mereka pasti pernah marah, tapi marahnya itu nggak akan lama. Nanti kalo udah beberapa saat juga balik lagi kaya biasanya, beda banget sama temen yang ngga terlalu deket eh tiba-tiba marahan, pasti marahnya itu lebih lama dari temen deket. Temen deket yang gue punya rata-rata sih tau kalo gue orangnya bisa tiba-tiba curhat-_- Mereka lagi badmood buat gamau denger juga tetep aja sok dengerin gue cerita, padahal gue tau banget mereka lagi males dengerin hahaha, tapi gue suka cara mereka, dari pada mereka bilang lagi gamau dengerin, mending pura-pura di dengerin hahaha :p
Mereka juga suka ngasih-ngasih masukan, kalo kita salah ya di bilang "Ih hen elu itu salah, harusnya........."
Kadang kalo lagi cerita tentang orang yang nggak suka sama kita, kita mah ceritanya biasa aja, tapi kadang mereka yang dengerin jadi sewot dan emosi hehe the best banget deh pokoknya yang namanya temen deket itu ({})
Mereka juga ngga tau banget sifat kita, kita bakalan bete kalo di gimanain, harus gimana cara ngomongnya kalo mau negor kesalahan, tau gimana caranya biar nggak bikin kesel, kalo marah kita tau caranya biar dia nggak kesel lagi. Duhhh apa ya, temen deket itu banyak banget ngajarin kita. Mulai dari kekompakan, seru seruan yang bener seru, susahnya dapetin nilai bareng ( Sebenernya sih bukan susah dapetin nilainya, tapi susah ngerjain tugasnya haha)
Oh iya mau ngenalin beberapa temen deket gue nih, langsung aja yuk kenalan :D
Yang ini namanya Eva Rosedinda Saraswati
Dia itu orangnya berubah-ubah mood nya, kalo lagi badmood jangan di ganggu deh, bisa-bisa herrrrrr ngga tau deh nasib hati begimana haha. Tapi dia baik, orangnya suka frontal, beraninya tinggi, dan satu lagi dia berusaha ingin memiliki body seperti gue wkkak. Semangat yaaa epaaaaa :*
Yang ini namanya Rural Aisah Sari
Dia ini orangnya bawel, ribet, banyak maunya, nyusahin, ngangenin, dan gak ketinggalan dia juga baik, dia selalu membela gue sampai titik hayatnya haha ciye banget kan? Bawaannya ngomel kalo tau gue nangis. Udah seperti kakak gue yang amat sangat ngeselin dan sering bikin emosi naik turun :'* Dan proses ingin memiliki body seperti gue sudah berhasil, dengan cara mengikuti organisasi paskibra. Ululuulu eteh ({})
Kalo ini namanya Yunita Suryanain
Nah ini nih bocah yang jomblonya kelewat batas, pantes di juluki jomblo kelewat ngenes. Dia orangnya gampang bosen sih dlm hal percintaan, jd mending pdkt doang dia mah daripada pacaran terus cepet putus karna bosen, dia sok kalem orgnya ( Jadi hati-hati yah, dia teroris ) ahahaha. Tapi dia paling setia nemenin gue kalo gue butuh temen jajan, temen cerita apa lagi, dia setia banget dengerin gue curhat sampe selesai, walaupun dia jarang cerita sama gue, dan gue punya banyak khayalan besar tentang politik dunia sama dia hahaha-_-
Ini namanya Sri Maeliyah
Selanjutnya adalah sri maeliyah, dia biasa di panggil mae haha tapi dia dirumah di panggilnya lia-_- Dia adalah seorang wanita yang kebal nahan ketawa, kalo ketawa tuh geter doang badannya, tapi sekalinya ketawa lepas bakalan kenceng banget! :O
Pernah punya mantan yang menurut gue orgnya lawak banget, tapi tetep aja nggak mempan bikin dia ketawa kalo mereka lagi jalan berdua (Kabarnya sih begitu haha parah lu mae lawakannya jadi berasa krikkk ). Gue takut tiba-tiba elu lupa cara ketawa maeeee :'''''(
Ini nih si Elyanti Praja Putri
Berikutnya adalah elyboy atau acil, dia nih orangnya kecil imut-imut gimana gitu, eh salah maksud gue amit-amit gimana gitu. Orangnya cablak, cempreng, rame sendiri kaya ibu-ibu rumpihhh, tapi kalo udah kelewat kenyang bakalan melongo kaya orang bete. Ini juga termasuk jones, ya sebelas dua belas lah sama yunita. Mereka sama kecil, sama-sama sok milih-milih cinta biar dibilang jones banget-banget wkakak. Ely ini temen seperjuangan gue yang demen banget beli babel bang jen, kita berdua suka sekali bang jen ahahaha. Dia ini anak baru transfortour pas itu, terus banyak yang bilang gue mirip sama dia dari bagian sekitar mata u,u
Ini namanya Wita Melinda Wati
Wita? hmmm wita itu orangnya kalo jalan kaya orang lugu putri kraton, ketawanya bisa mengemparkan seisi bumi-_- dia yang menciptakan nada "Bete...in" suka bernyanyi parirarirampam sambil benerin kerudung, dan perkataan galak yang harusnya dilontarkan dengan nada serem sama dia itu di ucapkan menjadi nada kemayuuuu :3 paling pelit dipinjemin hapenya, dan paling jago berbisnis, apa lagi kalo udah nawarin produk oriflame yang diskon. Aduhhhh ngena banget jurusnya-_-
Ini namanya Firda Hayati
Oke lanjut ke firda yang biasa di panggil firhay, dia anak theater, dia aktingnya bagus lohhh, cocok jadi pemeran ibu-ibu atau korban perselingkuhan ( Kaya film b.Indo kemarin ), tapi di dalam hal nyata, dia paling cocok jadi korban pemberi harapan palsu *eh-_-v Dia punya hobby nulis, rencananya sih kita berdua mau cari-cari komunitas menulis gitu, tapi ngga tau dimana sumbernya :( Dia juga menurut gue pinter jadi moderator(MC), moderator itu pembawa suatu acara kan? Pinter ngebawa acara, tapi bawa hati aja bisa bingung mau naronya dimana :'|
Ini namanya Siti Zaenab
Okeee lanjut ke siti zaenab yang biasa di panggil ain, si cewek tomboy ini ngebuat gue bingung dari mana nama ain di ambil? Katanya sih dari Bapanya. Duhhh si bapak bikin bingung aja deh :3 Dia tomboy, suka gambar-gambar serem, rajin mengerjakan tugas dari ibu bapak guru, kalo sedang bete wajahnya kusut. Dia bukannya ngga pernah marah, dia mah marah pernah, cuma jarang di tunjukin, paling cuma cengengesan. Dan pecinta hala madrid ini termasuk pecinta ozilnya, ternyata foto-foto di hapenya cenderung lebih feminim, beda kalo lagi sekolah, diem-diem dia suka foto pake kerudung segitiga. Temen sebangku yang selalu menolong nilai-nilai gue lohhh, mudah-mudahan aja ya ngga kapok dan jangan lelah yaaa in u,u
Ini mereka temen-temen yang udah kaya keluarga banget, kalo main sama mereka tuh mama selalu ngizinin dan ngga marah kalo pulangnya malem banget, soalnya mama juga udah percaya sama mereka kalo kita semua cuma bandel lupa waktu kalo udah main bareng, dan mama tau mereka semua itu pelindung ({}) gabisa nulis karakter mereka masing-masing, yang pasti foto dibawa ini belum termasuk semuanya ferdi dkk hehehe :D
Itulah karakter mereka yang gue tau selama gue kenal mereka, ngga menuntut kemungkinan ada kesalahan penilaian karakter dari gue bagi orang yang lebih deket sama mereka :* mereka tempat gue tiba-tiba curhat. mereka juga banyak nolongin, pokoknya the best!!!!! Gue juga ada foto sama merekaaaa, kecuali sama wita, ngga tau deh kenapa wita ngga begitu suka foto :'O Yuk cusssss haha
Nah itulah gue dan temen temen yang gue anggap temen deket banget-banget ( Walaupun mereka ngga nganggep temen deket wkakak ). Dan yang ngga ada cuma foto bareng sama wita, gue rasa tuh anak pobia camera kali yaaa, abis setiap diajak foto ngga mau, belaga malu-malu gitu sih-_-
Sekian dari gue hehe jangan banyak-banyak ntar pada kena diabetes liat orang-orang manis di foto-foto itu hahaha
Sebuah makna temen deket dari gue adalah ; Mereka selalu siap saat kita butuhkan tanpa meminta sebuah imbalan (tapi kita juga harus tau diri), dirumah pasti ada aja barang-barang mereka, mereka selalu ngingetin kalo kita udah salah jalan, berbagi pengalaman, saling ngedengrin cerita walaupun ada yang jarang banget cerita, mereka ngga marah kalo di usilin atau di jailin, banyak banget hal main yang kita lewatin setiap hari dan lain-lainnya :D
Langganan:
Postingan (Atom)











.jpg)






