Bunga yang terlihat indah tidak selamanya akan indah, dia akan layu. Mematikan dirinya sendiri demi tumbuhnya bunga baru. Lihatlah, bunga saja tidak egois kan? Mereka sanggup menghilangkan dirinya sendiri demi munculnya wujud lain. Aku ingin seperti bunga, indahnya menakjubkan, layunya dengan sebab, kematiannya bermanfaat. Indah bukan? Iya sangat indah.
Aku ingin seperti pelangi, pelangi datang setelah hujan turun. Sama seperti kehidupan ; kebahagiaan datang setelah turunnya air mata. Aku tidak bisa merasakan kebahagian jika aku tidak merasakan sakitnya menangis. Aku tidak bisa merasakan sulitnya menjaga jika aku tidak pernah merasakan kehilangan. Aku tidak bisa merasakan berharganya kesenangan jika aku tidak pernah merasakan murungnya kehilangan. Kalian tau pelangi sangat cepat menghilang? Padahal dia sangat indah di lihat? Itu sama seperti kebahagiaan yang aku dapat, sangat indah sebuah kebahagiaan, tapi baru merasakannya saja dia sudah sangat cepat menghilang, lalu di gantikan dengan kejamnya kesedihan. Tapi menurutku kesedihan tidak begitu kejam, dia baik, dia mengajarkan aku mengatasi kesedihan yang aku rasakan. Belajar dari kesedih, kesalahan, dan ke gagalan tidak salah kan?
Mendung? mendung sangat lekat dengan kesejukan. Aku suka mendung, karena jika mendung datang, kesejukan akan datang menyelimuti hari-hariku, bahkan menyelimuti diriku sendiri. Sejuk membuatku merasa tenang, membuatku berfikir jernih. Andaikan aku menjadi sejuk, aku akan datang setiap saat orang sedang kacau, setiap orang sedang stress, dan aku akan hadir lebih lama pada seseorang yang sedang di ambang kebingungan hatinya. Karena aku tau, mereka membutuhkan itu. Aku ingin menjadi seperti mendung, yang datang ketika orang-orang merasa jalan fikirannya buntu dan berusaha menghadirkan sebuah ketenangan. Meskipun orang-orang itu sudah menemukan jalannya dan menjadi lebih tenang lalu melupakan sejuk, aku sebagai sejuk tidak akan berubah sampai kapanpun menjadi panas terik matahari. Aku tetap sejuk, kokoh, dan konstan dengan diriku.
Dan apakah kalian tau indahnya ratusan cahaya yang menyala pada malam hari? Coba kalian lihat ratusan cahaya itu dari ketinggian yang sangat tinggi. Kalian pasti betah memandangi, tak terlihat sedikitpun kekotoran, yang kalian lihat hanya ratusan titik cahaya yang menyala. Ratusan cahaya menerangi milyaran manusia, sedangkan aku? Penerang untuk menunjukan jalan ke arah kamu saja tidak punya. Jika aku di pilih menjadi sebuah cahaya penerang, aku akan menerangi kamu, orang yang ku sayang dan orang yang menyayangi ku.
Aku benci kehancuran, kehancuran memang tidak selamanya buruk. Tapi bisa kah tidak ada kehancuran di hidup ini? Mereka yang hancur, berpisah, pasti masih utuh bersama jika kehancuran menghilang dan musnah. Tidak ada kehancuran jika tidak ada sebuah penghancur! Hidup ini saling menghancurkan satu sama lain. Jadi jangan heran kalo sesama aja masih tikam. Sebaik-baiknya seseorang, jika itu demi mendapatkan kebahagiaannya mengapa tidak? Tapi berfikirlah sekali lagi sebelum melakukan, kebahagiaanmu datang tidak hanya dari sana, apa yang kamu lakukan belum tentu menghasilkan kebahgiaan, bisa saja hanya menambah suatu masalah bukan? Jangan hidup seperti rantai makanan ; selalu memakan satu sama lainnya demi kehidupannya.
Aku juga ingin hidup seperti angka 11, yang di balik seperti apa pun akan tetap 11. Yang terlempar kemana pun, akan tetap membentuk dua angka yang jadi satu, yaitu 11, tidak berubah apapun yang terjadi. Dibalik ke kanan, ke kiri, ke atas bawah akan tetap 11. Sebelas ; mempunyai banyak arti bagiku, bahkan aku tidak rela jika kesedihan datang saat 11 sedang berjalan dalam detik, menit, dan jam ( waktu )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar