Orang bilang hidup berumah tangga adalah hal yang indah dan banyak sekali pengalaman yang tidak pernah kamu rasakan saat belum menikah. Tapi bagaimana dengan rumah tangganya yang hancur? Yang rusak karena hal kecil, hal sangat sepele? Entah itu terlambat pulang atau tidak menyediakan sarapan pagi untuk keluarga. Masih pantaskah di sebut bahagia?
Aku escar gadis belia yang berumur 11tahun, aku tinggal bersama kedua orang tua ku, dan bersama seorang wanita yang tidak kalah super dengan Mamah, dia bernama marsel, dia adalah kakak ku. Mereka semua menyayangiku, terlihat dari cara orang tua ku menjagaku, memperhatikan setiap perkembangan hidupku yang semakin hari semakin tumbuh, dan kak marsel yang setiap hari selalu melindungiku, hingga aku bosan di jemputnya sekolah, bahkan kemana-mana harus dengan pengawalan darinya. Minimal ya aku harus pergi atas izin darinya, berlebihan bukan? Tapi aku senang, karena itulah sosok kakak yang menyayangiku. Aku bahagia memiliki keluarga harmonis seperti ini, dan aku tidak ingin kehilangan mereka sebelum aku kehilangan nyawaku sendiri.
"Escar, bangun yah sudah siang, nanti kamu terlambat."
Sambil mengusap-usap mata aku terbangun "Kenapa setiap orang tua selalu membangunkan anaknya dengan kata nanti kamu terlambat?" Yah mungkin sudah khas para Ibu-ibu kali ya.
"Escar nakal ya, Mamah bilang bangun nak!" Terdengar suaranya yang kencang dari dapur sana.
"Iya-iya Mamah ini udah mau mandi."
Sekitar setengah jam aku selesaikan urusan mandiku dan beranjak menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah, yang pasti aku harus terlihat ceria.
"Maaaah... Escar berangkat ya?" Mamah menghampiriku dengan tampangnya yang agak cemberut, kedua tangan yang di letakkan di pinggul, dan kepala yang di geleng-gelengkan.
"Kenapa Mah? Kok cemberut?"
"Kamu masih tanya kenapa? Mamah udah bikinin kamu sarapan, bekel, dan susu."
"Tapi aku buru-buru Mamah"
"Nggak, pokoknya harus sarapan dulu, dan ini bekal hari ini, harus habis."
Karena aku sayang Mamah dan ngga mau ngebuat dia marah, aku melahab habis semua makanan yang dia buat dengan perasaan yang di kejar-kejar waktu.
"Mah sarapannya udah abis dong, Escar berangkat ya? Love you mah." Setelah mencium tangan mamah aku berlari kecil dan naik ke mobil kak Marsel yang sudah menunggu sejak tadi.
"Iya nak, hati-hati ya Marsel. Escar jangan lupa makan bekalnya, I Love you too nak."
Karena rumah dengan sekolahanku harus melewati begitu banyak lampu merah, terpaksa aku harus terlambat beberapa menit. Dan alhasil aku di hukum berdiri hormat kepada sang bendera selama 2jam pelajaran. Untungnya aku tidak sendiri, aku bersama kak Marsel, dia menungguku hingga aku di izin kan masuk kelas. Betapa baiknya dia, dia membuat aku begitu menyayanginya tapi aku begitu malu untuk mengatakannya, jadi aku terkesan cuek merespon perhatiannya.
"Car, sekarang lo udah boleh masuk kelas, gue pulang ya? Awas lo belajar yang bener."
"Iya kak iya sana pulang aja, lagian siapa suruh lo nungguin gue."
"Ye, gue tungguin bukannya makasih. Gue tau pasti lo bete sendirian."
"Hmm.. Iya makasih yah kak marsel yang bikin gue kaya putri kraton setiap saat."
"Hahaha bisa aja lo, yaudah gue balik." Aku menganggukan kepalaku hingga beberapa kali, dan ka Marsel pun pergi meninggalkan ku.
Aku berlari menuju ruang kelasku karena pasti aku sudah ketinggalan banyak materi hari ini. Setibanya di depan kelas aku menarik napas dalam-dalam dan mulai mengetuk pintu kayu berwarna coklat yang tinggi itu, seperempat tinggiku mungkin.
"Assalamualaikum" sambil aku buka pintu itu.
"Walaikumsalam, dari mana saja car? Sudah sana cepat duduk."
"Untung saja ibu guru killer itu memafkanku dan ngga ngambil pusing, bahaya kalo sampe aku dihukum. Mungkin tadi pagi dia sarapan masakan malaikat hahaha." Ujarku dalam hati.
Kringggg.... Kringggg.... Bel pulang pun berbunyi. Aku segera menyusul kak Marsel yang sejak tadi menunggu didepan gerbang sekolah.
"Hay kak, yuk pulang." Ajak ku.
"Dateng-dateng ngajak pulang. Anterin gue dulu beli kue ulang tahun buat gilang."
"Gilang? Pacar baru lo kak?"
"Iya."
"Dari kapan?"
"2bulan yang lalu."
"Terus sama ka reno ngga jadi tunangan?"
"Nggak."
"Kenapa?" aku bertanya terheran-heran.
"Gak papa, mau tau aja lo masih kecil."
"Ye gini-gini juga gue ade lo, berhak tau dong." Aku berusaha membela diriku sendiri.
"Nggak! Kalo urusan lo, baru gue boleh tau."
"Curang lo mah kak, kenapa sih gagal? Kalian kan pacaran udah lama."
"Umur hubungan ngga menjamin suatu pernikahan."
"Terus gara-gara apa?"
"Lo mau tau? Gue di selingkuhin!"
"Ohhh... Berarti kak reno jahat ya?" Dengan tampang sangat polos.
"Masih nanya? udah ah diem lo bawel car."
"Ish iya-iya."
Setelah membeli kue untuk kak gilang, disepanjang perjalanan pulang aku berniat menanyakan sesuatu kepada kak Marsel. Tentang gagalnya pertunangan mereka karena kak reno selingkuh.
"Kak...."
"Iya apa?"
Ketika dia menjawab, aku segara menghadapkan badanku untuk melihat kak Marsel. "Di selingkuhin itu sakit nggak kak?" Aku mulai mengeluarkan satu pertanyaanku.
"Sekuat-kuatnya orang, kalo diselingkuhin pas mau tunangan ya pasti nyesek banget."
"Kalo hal itu terjadi di keluarga kita gimana kak?"
"Maksud lo Mamah di selingkuhin Papah?"
Dengan polos aku menjawab "Iya."
"Hah? Gilak amit-amit jangan lah car! Pikiran lo negatif aja."
"Tapi kak, gue takut Papah akhir-akhir ini jarang ada waktu buat kita karna dia....." Belum selesai aku berbicara, kak Marsel menghentikan mobilnya mendadak. Aku pun hampir terjedot atap mobil, lalu mengubah posisinya menjadi berlawanan denganku.
"Dia apa? Lo tau kan papah sayang sama kita?!"
"Iya gue tau kak, cuma gue curiga aja!"
"Kualat lo nuduh-nuduh orang tua!"
"Gue gak nuduh, tapi papah sekarang aneh kak, biasanya dia yang ambilin rapot gue, dia yang nemenin gue beli sepatu baru, tas baru, baju baru, ataupun sekedar ngabisin waktu libur bareng kita semua!"
"Jangan sok tau, lo harusnya ngerti papah sibuk, dan kita bukan anak kecil lagi yang harus ditemenin kemana-mana." Kak Marsel mulai menaik amarahnya karna kecurigaanku.
'Tapi gue gak bisa, gue masih kecil, iya bocah! Masih mau dimanjain Papah sama Mamah kak!"
"Udahlah Escar, kita masih ada temen yang siap nemenin kita dan manjain kita."
"Kenapa sih kak Marsel nganggep enteng? Apa kaka gak curiga dengan uang yang sekarang udah jarang banget dikasih ke Mamah?"
"Nggak, mungkin Papah lagi sepi usahanya."
"Oh ya? sepi usaha tapi semakin sibuk. Masuk akal?"
Kak Marsel terdiam, aku lontarkan kalimat ku lagi "Kaka bohong kan? Sebenernya kak Marsel tau kan semua masalah keluarga kita?"
"Udahlah gue capek debat sama lo, intinya lo gak boleh mikir gitu, dan kita tetap satu keluarga yang utuh." Sekarang giliranku yang diam, memandang dengan tatapan kesal, sekaligus menangis.
"Escar..." Kak Marsel memanggilku dengan nada yang tidak biasa, sangat lembut. "Udah dong jangan nangis lagi. Masih ada kakak yang bisa nemenin kemanapun lo mau, dan masih ada kakak yang sayang banget sama lo Car. Gue ngga mau liat adik satu-satunya kepunyaan gue nangis kaya gini."
"Tapi Escar takut kak." Bergetar! Ya, suara ku bergetar seperti benar-benar ketakutan, kak Marsel segera memelukku lalu mengelus-elus rambutku sambil berkata "Semuanya baik-baik saja."
Setelah sampai dirumah, aku langsung berlari menuju kamar Mamah tanpa merasa risih dengan seragam yang sudah sangat kucel seharian ini. Ku intip kamarnya dan aku melihat sesosok wanita setengah baya yang sudah menua beserta rautan wajahnya yang terlihat lelah tapi sebenarnya kuat. Dia sedang duduk memandangi album foto kami sekeluarga, dimana aku dan kakak ku masih sangat belia. Satu per satu poto itu dipandangi dengan detail, sambil di elus-elus seperti menggambarkan kerinduan rasanya bersama. Pelan-pelan aku memberanikan diri untuk menampakan diriku.
"Mahhh...."
"Hai sayang, udah pulang? Capek ya?"
"Nggak kok mah" Aku mendekati wanita itu dan duduk tepat di pakuannya.
"Tapi kok mukanya cemberut gitu?"
Aku diam. "Kenapa sayang? Cerita sama mamah sini."
Aku tetap diam dan meneteskan air mata, aku tidak kuat melihat wanita kebanggaanku kesepian, dia kehilangan sosok pelindung! Aku benci Mamah pura-pura semuanya baik-baik saja, padahal aku tau ada hal aneh di keluarga ini.
"Escar kenapa menangis nak? Kamu marah uang jajannya mamah potong?"
"Nggak mah."
"Terus kenapa? Ngomong sama Mamah nak."
"Papah kemana Mah akhir-akhir ini? Kenapa udah 2minggu ini ngga kumpul bareng sama kita?"
"Papah kamu lagi sibuk sayang."
"Mamah bohong! Bohong kan? Mamah ajarin aku buat jadi orang jujur, kenapa Mamah berbohong?!"
Wanita tua itu memejamkan matanya sesaat dan mulai menarik nafas.
"Nak, iya Mamah bakal omongin semuanya ke kamu, tapi besok ya? Sekarang udah malem."
"Nggak mau! Harus sekarang Mah!"
"Oke oke, sebenarnya.. Papah mu sudah menikah dengan perempuan lain nak, sudah 1bulan yang lalu, dan Mamah nggak sanggup buat ngasih tau kamu. Akhirnya Mamah suruh kak Marsel yang mewakili kehadiran kita."
"Hah? Apa Mah? Menikahhhhh?!!!! Nggak mungkin Mah, katanya Papah sayang sama kita, pas itu Papah bilang nggak akan ninggalin kita!"
"Itu dulu sayang, sebelum Papah bertemu dengan perempuan itu." Mamah tersenyum.
Aku heran, Mamah dan kak Marsel masih bisa tersenyum saat ditinggalkan seseorang yang mereka sayangi dan seseorang yang ingin dijadikan pendamping sampai akhir hidupnya.
"Mamah kenapa masih bisa tersenyum? Apa mamah ngga sayang sama papah?"
"Bukan gitu nak, mamah hanya mencoba mengikhlaskan, semuanya sudah diatur oleh Tuhan."
"Tapi bagaimana dengan aku mah? Aku masih membutuhkan keluarga yang utuh!"
"Nakkk...."
"Kenapa mamah sama papah ngga mikirin perasaan aku? Perasaan anak kalian! Kalian dibutakan rasa egois!" Segera aku beranjak berdiri dari pangkuan wanita yang aku sayangi, aku tau bukan hanya aku yang merasakan semuanya hancur tapi terutama mamah lah yang merasakan semuanya. Mamah lekas menyusul aku yang berjalan cepat sambil mengusap air mata, Mamah menarik tanganku dan memelukku. Dia bilang "Kita semua belum hancur nak, kamu masih punya Mamah dan Kakak yang sayang banget sama kamu. Bahkan kalo kamu mau main sama Papah masih bisa kok, kamu tinggal telfon Papah aja. Semuanya sudah ada di surat perjanjian sebelum Papah menikah lagi.
Spontan aku memeluk wanita yang ada dihadapanku, dia begitu tabah, kuat dan baik hati. Papah sungguh salah meniggalkan wanita seperti ini. Laki-laki yang dulu ku sayangi sepenuh hati, sepenuhnya diriku ada pada dirinya, manjaannya, gendongannya, belaiannya, kasih sayangnya, dan perhatiannya yang dulu mengiri aku beranjak sebesar ini, sekarang sudah memudar. Jangankan memudar, bahkan sudah tak terlihat sekecil titik apapun. Kenapa semuanya hancur begitu cepat? Aku kehilangan sosok pelindung seperti Papah, kak Marsel kehilangan calon suaminya, Mamah kehilangan lelaki yang begitu dia cintai dan dia percayai. Ada hukuman apa untuk kami ya Tuhan!
Sambil memeluk Mamah, aku menangis terisak-isak dan mengucapkan sesuatu yang entah itu doa, rasa bersyukur atau ungkapan kesedihan hatiku saat ini. Aku berucap "Bahagialah papah bersama pendampingmu yang baru, jangan berharap aku akan memanggil wanita itu Ibu, Mamah atau Bunda. Ingatlah orangtua ku hanya kalian berdua, aku doakan yang terbaik untuk kalian sekali pun itu menyakiti diriku sendiri. Aku bersumpah akan menjaga Mamah wanita yang kau kecewakan hatinya! Yang kau hancurkan mimpi-mimpi dihari senjanya. Akan ku gantikan kasih sayang Papah dengan kasih sayangku untuk dirinya."