Aku jatuh cinta, jatuh cinta pada pria yang ku pandang pertama kali di sebuah tempat semua siswa-siswi berkumpul saat istirahat. Tapi aku melihatnya bukan saat istirahat, melainkan saat semua murid berbondong-bondong pulang menuju rumahnya masing-masing.
"Siapa ya? kok gapernah liat, kayaknya bukan murid
sini deh. Bisa kenal gak ya?" Aku bertanya dalam hati.
Sesaat aku pandangi dia yang sejak tadi sedang
menunjukan kemampuannya dengan teman-temannya. Entah mereka sedang melakukan
apa, yang pasti mereka meloncat dari jarak jauh dan mencoba merayap seperti
laba-laba dipagar. Aku suka, suka saat pertama kali menatapnya, tatapanku
benar-benar hanya tertuju padanya.
"Uhuk belia, biasa aja kali natapnya.. Sampe
bengong gitu." Ridwan meledek ku.
"Ih apa sih rid, emang gue ngeliatin
siapa?"
"Ah emangnya gue gak tau, pasti kaka baju hitam itu
kan?"
"Sotau lo rid, bukan tau!"
"Jangan bohong bel, gue dari tadi merhatiin setiap
kaka itu yang beraksi lo selalu tersenyum, ditambah tepuk tangan senang."
Ledek ridwan
"Haaa.. Apa sih rid, orang nepukin semuanya, emang gak boleh senyum?" Ya ku akui aku memang sejak tadi memberikan tepukan kecil untuk kaka itu. Nyaris tak terdengar suara tepukannya selain diriku yang merasakan suaranya. Mungkin ridwan sangat memperhatikan, jadi walaupun tak terdengar aku bertepuk, dia melihat gerakan tangan kecil ku untuk tepukan kecil itu.
"Haaa.. Apa sih rid, orang nepukin semuanya, emang gak boleh senyum?" Ya ku akui aku memang sejak tadi memberikan tepukan kecil untuk kaka itu. Nyaris tak terdengar suara tepukannya selain diriku yang merasakan suaranya. Mungkin ridwan sangat memperhatikan, jadi walaupun tak terdengar aku bertepuk, dia melihat gerakan tangan kecil ku untuk tepukan kecil itu.
"Hmm.. Bebas deh, tadinya sih mau dikenalin
tuh."
"Yee lo merhatiin aku banget ya rid, sampe-sampe
hal tepukan kecil aja kamu tau hehe." Giliranku meledek ridwan
"Pede lo bel, udah sore nih mau cabut gak?"
"Pede lo bel, udah sore nih mau cabut gak?"
"Cabut kemana?"
"Ke rumah masa depan."
"Hih gamau ah, emangnya masa depan gue sama lo?"
"Maksud gue kuburan, siapa juga yang mau masa depan
bareng lo."
"Banyak!"
"Sebanyak jumlah tunanetra?"
"Yakali, cape ah diledek mulu. Yuk cabut." Aku berdiri sambil membersihkan rumput yang menempel di celanaku.
"Yakali, cape ah diledek mulu. Yuk cabut." Aku berdiri sambil membersihkan rumput yang menempel di celanaku.
"Gak nunggu kaka baju hitam itu
selesai?"
"Gak usah, gak bakal kenal sama gue."
"Ini kode bukan ya?" Sambil menatap ku ke
atas.
"Kode di hidung noh banyak."
"Itu komedo beliaaa!!!" Ridwan mencubit hidungku,
ya begitulah kebiasaannya.
"Sakitttt!" Ku singkirkan tangannya dari hidung
permataku yang mancungnya melebihi pinokio hehe
"Jangan lebay deh bel, bilang aja mau
dimanjain."
"Ih geliiiiii......"
"Hahaha"
Sepanjang perjalanan aku dan dia tertawa,
menertawakan ledekan-ledekan yang saling kami lemparkan
berganti-gantian.
"Eh rid, serius kenal kakak baju hitam
itu?"
"Iya kenal."
"Kok nggak nanya kenapa sih?"
"Gak ah, gue ngga mau tau."
"Ngga mau tau atau emang udah tau kalo gue bakal
minta..."
"Di kenalin kan?"
"Nah, ganteng banget deh sahabat gue yang satu ini
haha."
"Hmmm.. Gimana ya? Duhhh.."
"Ah ridwan, ayolah pleaseee."
"Susah bel."
"Susah kenapa?" Aku
mulai memasang tampang polosku yang berkombinasi dengan memohon dan memelas
kepada ridwan.
"Susah nolak permintaan lo."
"Maksudnya? Gue nggak ngerti."
"Lolaaaa... Pe'er aja buat nanti." Katanya
tersenyum.
"Oh iyaa ngerti, berarti mau ngenalin dong? Yes,
asikkk." Reflek ku peluk ridwan dengan tidak peduli laki-laki atau wanita kah
dia. Intinya dia laki-laki yang sudah seperti kakak kandung ku sendiri, dia
tidak pernah rella aku menangis. Jangankan menangis, sedih atau pasang muka
melas saja dia sudah curiga bahwa hatiku di patahkan seseorang
Lalu di dua jalan yang berbeda arah, kami
memisahkan diri. Karena kami tidak tinggal dalam satu rumah.
Tiba dirumah aku segera membersihkan diriku dari
kuman-kuman nakal seharian ini. Setelah mandi makan malam, dan mulai berkelahi
dengan tugas-tugas yang menunggu sejak tadi. Mungkin kalau buku punya mulut dia
akan berkata "Hei kakak, cepat selesaikan kami. Kami tak ingin diberi harapan
palsu, selalu menarik-ulur niatan mengerjakan kami dengan kegiatan lain." Kataku
dalam hati.
"Belia... Bel.."
"Iya mah? Kenapa?" Mengalihkan pandanganku ke arah
mamah.
"Tugasnya masih banyak? Ini sudah larut malam
nak."
"Nggak kok sedikit lagi, mamah tidur duluan
aja."
"Yaudah, tapi jangan dipaksa kalo udah ngga
kuat."
"Iya mamah, siap....!" Ku berikan sikap hormat
bendera kepada mamah, mamah tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu menutup
pintu perlahan-lahan.
Matahari pagi ini lebih cepat ke atas, lebih cepat
membangunkan manusia-manusia yang tertidur, lebih cepat membuat ku kalang kabut
bergegas berangkat sekolah karena merasa sudah sangat siang. Mungkin bukan hanya
aku, tapi mamah dan papah juga.
Aku menunggu ridwan di depan pagar sekitar
10menitan, lama sekali bagiku disaat situasi sedang merasa terburu-buru
sekali.
"Yuk bel, sory kesiangan."
"Iya ngga papa, yuk."
"Ngebut gak nih?"
"Ngga usah macem-macem, masih mau ujian gak lo
haha."
"Haha iya yah, yaudah pelan-pelan
aja."
"Nggak pelan kaya gini juga rid." Melihat kilometer
motornya saja hanya 20km naik sedikit.
"Katanya ngga usah ngebut kan, yaudah pelan
deh."
"Tapi ini pelannya kebangetan! Cepet ah rid gue
gamau telat, ntar jodoh gue telat juga datengnya."
"Ye bisa aja lo, iya iyaaa."
Kami sampai disekolah tepat 15 menit sebelum masuk,
syukurlah tidak terlambat. Dan kami langsung berpisah di lorong koridor kelas
bawah, aku naik ke atas sedangkan ridwan langsung masuk kelas. Jam istirahat pun
kami berdua, menghabiskan bekal dari mamah yang sengaja disediakan untuk kami
berdua.
Sepulang sekolah aku berdiam sebentar ditaman
sekolah untuk melihat kantin itu, adakah kaka itu lagi? Aku berharap-harap cemas
setiap detik melihat kantin itu, berharapn aku menemukan sosoknya pindah berada
disampingku. Namun semua itu hanya harapan.. Kita tidak akan pernah saling
bersampingan menatap indahnya kehidupan apabila kita bersama.
"Belia! Lo tuh ya, ditunggu dibawah ngga taunya
masih bengong disini."
"Ngagetin aja deh lo rid, sabar ya sebentar
lagi."
"Mau ngapain sih bengong disini? Nungguin kakak itu
lagi?"
"He'emmm." Aku sedikit mengangguk kan
kepala.
"Dia nggak ke situ hari ini."
"Kok lo tau?"
"Kan gue bilang, gue kenal dia belia."
"Terus dia kemana?"
"Mau tau?"
"Bangetttt!."
"Bilang dulu kalo gue tampan dan lo sayang banget
sama gue haha."
"Iya iya ridwan lelaki tampan pelindung gue
sekaligus orang yang gue anggep kakak kandung gue. Gue sayang banget sama
elo."
"Hahaha kata-kata lo emang paling bisa. Makanya
turun kalo mau tau."
"Turun kebawah nih?" langkah demi langkah ku jatuh
diatas tangga dan masih sama ridwan tak memberi tau dimana kaka
itu.
"Ini udah dibawah, katanya mau kasih tau dia
dimana?" Aku bertanya lagi.
"Coba liat ke arah parkiran."
Spontan aku berbalik badan, menutup bibirku dengan
kedua tanganku, tangan yang jemarinya seketika mendingin.
"Gimana? Gue gak bohongkan?"
"Ridwan, gue takut."
"Ngga usah takut, dia baik kok."
"Bukan, gue takut salah tingkah."
"Ngga usah salting, gue udah jelasih tentang lo
semuanya secara detail."
"Tapi..."
"Ngga usah tapi-tapi, kemarin kebelet banget mau
kenalan. Tuh sekarang udah gue siapin." Ridwan tertawa.
"Temenin juga."
"Ngga bisa, kebetulan gue ada janji, jadi lo pulang
sama dia yah." Ridwan menarik tanganku, seolah mengajak aku berjalan benar-benar
tertuju pada pria yang ku kagumi dalam waktu singkat.
"Far, gue titip belia yah. Anterin dia sampe
rumahnya, jagain dia." Titip ridwan kepada kakak itu.
"Oh iya rid, beresss."
"Yaudah gue duluan bel, far."
Lalu ridwan dan kakak itu bersalaman, berjabat
tangan persahabat seperti sudah lama saling kenal. Aku hanya melaimbaikan
tanganku dan menjawab "Hati-hati
ridwan."
"Hai belia..."
"Hai juga, namanya siapa ya? Soalnya ridwan ngga
pernah kasih tau nama kamu."
"Oh haha gitu, kenalin aku farel." Farel
mengulurkan tangannya.
Aku tersenyum dan membalas uluran tangannya dengan
uluran tanganku, kami saling berjabat. Tidak aku sangka aku benar-benar dapat
merasakan dirinya dekat denganku. Ini bukan mimpi, aku benar-benar merasakan degupan
detak jantungku yang rasanya tak menentu. Dia berdetak lebih cepat dari
biasanya, membuat aku lelah bernafas secara teratur.
"Aku bel..."
"Ngga usah sebut lagi, aku udah tau kok belia."
"Hehe." Aku pun tersenyum merona menahan malu.
"Aku anter pulang bel?"
"Hmm, boleh rel."
"Mampir makan dulu yah, laper."
"Yah, yaudah deh."
Kak farel benar-benar pria romantis, sepanjang waktu kami makan, dia yang mengambilkan aku sendok, garpu, bahkan memperhatikan ku untuk menghabiskan makanannya. Sampai rumah pun dia masih mengingatkan ku untuk lekas membersihkan diri, menyelesaikan tugas, menghabiskan susu buatan mama, dan melarang ku untuk tidur larut malam. Oh tuhaaannnn.. Dari mana kak farel tau segala aktivitasku? Yang selama ini memperhatikan dia kan aku? Mengapa dia yang lebih tau tentangku? Mungkin ini semua atas perbuatan ridwan. Ridwan memang begitu menyayangiku hingga tak ingin terus menerus melihatku menjadi wanita pengagum rahasia kak farel.
Berbulan-bulan kami saling mengenal lebih dekat dan lebih jauh, hingga aku melupakan sosok ridwan yang selalu ingin melihatku bahagia. Aku melupakannya, larut dalam kesenangan perkenalan ini, aku terlalu fokus pada satu titik tanpa memperhatikan titik lain yang lebih mengenalku. Belakangan ini tak ku dengar kabar ridwan, dia menyembunyikan dirinya. Susah kuhubungi, di sekolah pun tidak ada sosok dirinya yang senantiasa meledek ku. Tiba-tiba aku mengingatnya, aku merindukan dirinya..
Di sebuah cafe, aku bertemu farel, kami mengobrol seputar ridwan yang menghilang bagai di telan bumi. Kami bertemu, kami duduk berhadapan. Ku genggam gelas teh hangat yang sejak tadi tidak aku minum sedikitpun. Mulai ku bukan pembicaraan dengan menanyakan dimana keberadaan ridwan.
"Farel, kamu beneran ngga tau ridwan dimana?"
"Ngga bel, dia ga bilang apa-apa sama aku."
"Kamu kan deket sama dia, masa ngga tau sih?" Menatap farel dengan pandangan penuh keseriusan.
"Ya aku kan ngga selalu update tentang dia bel."
"Seenggaknya kamu taulah keadaannya terakhir kalian ketemu."
Sambil menunduk farel menjawab "Dia baik-baik aja."
"Nggak mungkin baik-baik aja tapi tiba-tiba menghilang."
"Ya aku mana tau bel!"
"Apa sih yang kamu tau rel? Semuanya kamu jawab nggak tau!"
"Kok kamu sewot sih bel? Kamu juga deket kan sama dia? Kenapa harus aku? Kamu sendiri kenapa ngga tau!"
"Nggak gitu maksud aku rel, maaf aku emosi."
"Iya ga papa." Farel menjawab dengan nada yang begitu kesal.
"Yaudah terus gimana?"
"Gimana apanya?"
"Iya ridwan dong rel."
"Gak tau lah." Kali ini farel terlihat masih kesal karena sikap ku tadi.
"Farel maaf, aku emosi, aku terlalu khawatir rel."
"Gini aja, aku cari tau ke temen tongkrongan, kamu cari tau ke salah satu keluarganya."
Aku pun mengangguk, mengiyakan ide farel yang ku fikir cukup adil dan mempercepat pencarian ini.
Berhari-hari mencari keberadaan ridwan, tapi hasilnya tetap sama. Kami tak menemukan ridwan di plosok mana pun. Aku merindukannya, ingin bertemu dengannya, aku menyesal melupakan kebaikannya. Padahal dia orang yang selalu ada untuk ku. Tidak lama kemudian saat aku sedang berbaring dikamar memikirkan kemana lagi aku harus mencari ridwan, aku menemukan sepucuk surat di bawah kotak musik pemberian ridwan dulu, surat itu terbungkus sangat rapih, sangat indah dengan pita merah diatasnya. Tanpa berfikir panjang aku segera membuka surat dari ridwan dan lekas membacanya dengan terburu-buru..
Baru beberapa baris aku membaca, isinya sudah sangat mengejutkan ku! Ridwan mengatakan dirinya sudah hidup berumah tangga, dia di karuniai sebuah janin oleh tuhan satu bulan terakhir ini. Dia menikah tanpa sepengetahuanku karena dirinya merasa tak ku butuhkan lagi, merasa tak ku ingin kan lagi kehadirannya. Ridwan menghamili sarah teman sekolah kami, dia khilaf karena pada saat itu akal sehatnya begitu kacau karena merasa ku tinggalkan, hingga akhirnya ridwan mabuk di club malam dan bertemu sarah yang kebetulan sangat rajin mengunjungi tempat itu setiap malam tanpa memikirkan tugas sekolahnya.
"Ridwan, kenapa selama ini lo nggak bilang kalo lo ada perasaan sama gue? Kenapa gue tau setelah lo kasih surat ini?"
"Kenapa nak? Mamah ngga sengaja denger kamu nangis." Tiba-tiba mamah ada disampingku sambil mengelus pundak ku.
"Belia sedih ma."
"Kenapa sayang?"
"Ridwan mah...."
"Dia kenapa? Tarik nafas dulu, baru ceritain semuanya ke mama nak."
"Mama baca surat ini aja, ini dari ridwan ma."
Mendengar kabar ini, aku bagaikan terlempar melambung tinggi dan di hantam bebatuan besar, sangat sakit menerimanya. Bagaikan di terpa ribuan masalah, sangat berat menerimanya, hingga akucukup sabar menghaapi ini. Menghadapi masalah yang ku timbulkan karena diriku sendiri. Entah hal apa yang menerpa kisah ini, tak sanggup ku menahan derai air mata yang mengalir karena penyesalan ini. Menyesal tak ada untuk ridwan di saat dia benar-benar membutuhkan aku.
Kini ridwan akan menjadi seorang ayah, dan aku akan dipanggil tante oleh anaknya kelak. Tanpa ragu aku menghubungi farel, dan menceritakan semuanya. Lalu aku dan farel bergegas mencari alamat yang di cantumkan di dalam surat itu. Dan kenyataannya pun pait, mereka tinggal di tempat yang begitu terbatas ukurannya, mereka harus bekerja sambil sekolah, belum lagi mereka harus menutupi status dirinya masing-masing yang sudah memiliki ikatan menikah.
Tiba di alamat itu aku melihat ridwan yang sedang membersihkan baju-baju. Berlari secepat mungkin menghampiri ridwan itu yang pertama aku lakukan saat melihat dia.
"Lo kemana aja! Gue khawatir rid."
"Disini aja ko bel."
"Maafin gue ridwan, gue nyesel! Gue gak mau kaya gini, gue mau kita baik-baik aja."
"Iya kita baik-baik aja kok bel."
Cara dia menjawab masih sama, tetap berusaha membuat suasana tenang sebesar apapun masalah menghampirinya.
Memeluk ridwan begitu erat tak ada salahnya, karena aku benar-benar tidak ingin kehilangannya lagi. "Aaaah ridwan gue nyesel! Gue minta maaf dan gue janji..."
Belum selesai aku berjanji, ridwan melepaskan tanganku yang memeluk erat tubuhnya. "Udah bel ngga papa, lupain aja ya, jangan dibahas lagi. Yuk masuk ajak farel sekalian, ada sarah kok di dalem."
Hanya melamun, tak percaya ridwan setegar ini, dan aku harus bertubi-tubi membungkam tanpa kata melihat situasi ini.
Namun apa daya seorang aku yang tidak bisa memutar kesalahan ini menjadi kebenaran, menyesal pun tak ada gunanya, tapi setidaknya dengan menyesal aku merasa aku pantas menebus dosaku. Tuhan hanya menyembunyikan ridwan dari kami semua, tuhan tidak benar-benar menghilangkan ridwan. Pada akhirnya aku dan farel pun berjanji akan membatu ridwan dan sarah membesarkan anaknya kelak :')











.jpg)






