Aku bukan daun berwarna coklat yang ada disekitar pepohonan tak terjaga apa lagi terawat, dan di dalam hutan yang gelap, yang sewaktu-waktu akan jatuh karena tertiup oleh hembusan angin yang terkadang menjadi daun tak menarik untuk dilihat dan akan gugur saat masanya tiba. Aku adalah seseorang yang ingin terlihat berguna untuk orang-orang di sekitar ku.
Termasuk untuk irsa yang menjadi kekasih ku 7 bulan yang lalu, aku mengenalnya cukup lama sekali, kami saling mengenal saat kami duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aku mengetahui segala kesukaannya dan segala aktivitasnya, dan juga apa saja yang membuatnya tidak suka. Dia suka kopi, suka warna merah, suka membaca komik, suka berolahraga tetapi tidak suka bergulat.
Ketika aku sedang berniat menonton dvd yang aku beli bersama irsa kemarin, tiba-tiba pintu rumah sudah terketuk oleh seseorang, dan dengan cepat aku membukakannya. Ada sesosok pria tinggi berdiri di depan pintu, manis, dengan matanya yang indah, alisnya yang hitam dan tebal, hidungnya yang mancung, dan tidak lupa seperti pakaiannya yang rapih.
"Loh,irsa kenapa dateng ngga bilang-bilang? ini kan lagi hujan"
"Handphone aku mati, jadi ngga bisa ngabarin kamu dulu, ngga papa kok kan demi ketemu kamu hehe" tawa garaunya lah yang membuat ku nyaman dengannya.
"Yaudah kamu masuk sini, aku ambilkan handuk dulu ya" Aku segera mengambil handuk untuk irsa, karna dia kedinginan dan jika dibiarkan akan sakit.
"Iya key" suaranya terdengar menggigil dan sambil melipat tangannya memeluk dirinya sendiri, mencoba menghangatkan dirinya sendiri.
"Ini handuknya sa, kamu menggigil, nanti kamu sakit"
"Terimakasih ya, ngga kok key, aku kan laki-laki jadi aku kuat" dia tertawa sambil mengelap-elap tubuhnya dengan handuk.
"Sama-sama,emang kalo cowok ngga bisa sakit? eh aku tadi mau nonton dvd yang baru kita beli kemarin, mau sekalian nemenin atau?"
"Udah pasti aku temenin key" belum selesai pertanyaan ku dia sudah menjawab.
"Kalo gitu aku nyalain sekarang ya"
"Oh iya ini aku bawain kesukaan kamu nih key"
"Waaah, kamu bawain aku coklat hangat" aku merima dengan senang hati karena aku memang tak akan menolak.
"Iya sayang, ini handuknya, aku udah mendingan"
"Aku taro dulu yah handuknya di kamar"
Setelah handuk yang digunakan irsa aku letakan dikamar, aku menuju kembali ke ruang tamu untuk menonton film, aku mengambil posisi tepat sebelah irsa, aku rebahkan badan ku di atas sofa, dan aku senderkan kepala ku di pundak irsa sambil asik menikmati coklat hangat yang dibawakan irsa. Tapi tiba-tiba irsa memanggilku "Keylan" dan menarik nafasnya sepanjang mungkin sambil memejamkan matanya sebentar, lalu membuka matanya kembali dan melihat ku.
"Kamu kenapa sa? kamu sakit?"
"Keylan, ada yang ingin aku bicarakan"
"Ngga seperti biasanya kamu mau membicarakan sesuatu tapi izin dulu sama aku, hal serius?"
"Iya key,ini masalah hubungan kita" dengan suara seperti biasanya yang lembut
"Apa? bukannya kita baik-baik aja? kita lagi ngga ada masalah kan sa?" aku bertanya dengan perasaan yang tetap tenang.
"Nggak key, mungkin masalah ini ngga pernah kamu rasain, kamu selalu nganggap hubungan kita baik-baik aja dan normal-normal aja"
Dengan perasaan yang mulai bingung aku bertanya "Lalu apa masalah kita sekarang? aku ngga measa ada hal yang ganjil dengan kita"
Aku... Aku... hmm... AK..." Irsa menggenggam tangan ku cukup kencang seperti membuat aliran darahnya terhenti seketika
"Kamu kenapa sih sa! Iya kamu kenapa? Aku aku terus!" karena penasaran yang berlebihan terpaksa aku memotong kalimatnya
"Aku minta maaf key sebelumnya, aku mohon maafin aku" sambil mengubah posisi duduknya yang kini menjadi lebih dekat dengan ku dan menggenggam lebih erat tangan ku, dia meminta maaf.
"Maaf? jangan buat aku gelisah, membuat ku bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Ada apa sebenarnya?"
"Keylan maaf kan aku, jujur ini pasti ngebuat kamu sakit,tapi aku harus bilang ini. Belakangan ini aku merasa bosan sama kamu key! Aku ngerasa hubungan kita flat banget, aku bertahan seolah semuanya baik itu karena keterpaksaan! aku terpaksa karena kamu baik"
Dengan nada yang begitu cepat dan mata yang tidak menatap ku, dengan mata yang sedikit menutup dan wajah yang dia buang dari hadapan ku, dia mengatakan semua itu.
"Apa sa?! ini beneran kamu? kamu bukan irsa kan!"
"Ini aku key, aku mohon maafin aku" sekali lagi dia mengucapkan maafnya tapi aku hanya memandangi wajahnya yang selama ini menjadi tempat ku berlindung, ada sebuah keraguan hebat yang dapat aku lihat dari cara dia berbicara, dan ada rasa bersalah begitu besar untuk dia selesaikan sendiri.
"Bukan! irsa yang aku punya ngga kaya gini, dia menyayangi ku!"
"Percayalah key ini aku irsa kekasih mu yang udah ngecewain kamu saat ini"
"Lantas jika aku baik, apa salah sa? bukan kah kamu mencari wanita baik?"
"Ngga gitu key, tapi..."
"Tapi apa? Kamu mau aku jadi orang yang nyakitin kamu supaya kamu ngga ngerasain hubungan yang datar? Apa aku harus membuat kisah kita rumit dengan berbagai kebohongan? Aku harus bagaimana sa?!" Tanya ku yang semakin bingung dan takut kehilangannya
"Aku ngga mau kamu kaya itu key, aku juga gak ngerti apa yang aku rasain sekarang"
"Kamu ngga ngerti sama perasaan kamu sendiri? kamu laki-laki sa!"
"Kamu tuh ngga tau rasanya jadi aku keylan! ini ngga semuanya salah aku!"
"Terus kamu mau salahin aku? kamu EGOIS! selama ini aku terima kamu apa adanya, aku ngga banyak nuntut, aku selalu turutin perkataan kamu, bahkan aku setia sa! kamu EGOISSS IRSA!" Aku berteriak sekencang mungkin.
Aku tidak pernah berbicara sekasar itu pada irsa, tapi hati ini sedang tidak karuan,terlalu lemah untuk menahan seluruh amarh. Lalu air mata yang di simpan sejak awal pembahsan masalah ini sudah tidak dapat di simpan, aku sudah tidak tahan untuk memecahkan kaca-kaca di mata ku yang akan menghadirkan sebuah tangisan! aku mengeluarkan air mata sederas mungkin, bukan ingin terlihat lemah di depannya, aku hanya ingin menunjukan betapa hancurnya perasaan ini saat dia mengatakan semuanya datar dan bertahan karena keterpaksaan. Bukan karena perasaannya sendiri untuk memperjuangkan ku! Air mata ku terabaikan dan tak karuan arah tetesannya, karna aku sudah tak memperdulikannya.
"Aku gak egois, aku cuma gak mau liat kamu terlalu jauh lagi untuk sakit"
"Kamu masih bilang kamu gak egois? kalau gamau kenapa kamu lakuin ini!"
"Aku tau aku salah! iya ini semua salah aku! tapi aku ngga bisa ngelanjutin semuanya"
"Kalau kamu tau kamu salah kenapa kamu mau mengakhiri!"
"Karena aku ngga mau waktu kita habis dengan sia-sia"
"Kalau ngga mau sia-sia seharusnya dari awal kita ngga usah mulai hubungan ini!"
"Ada mulai ada akhir key!"
"Aku cuma minta jangan kaya gini sa! kamu ngerti gak sih! kamu ngebuat semuanya berantakan"
Lalu irsa terdiam cukup lama, dan suasana pun menjadi hening, hanya ada suara isak tangisanku yang sangat berat untuk aku keluarkan. Tiba-tiba terdengar suara lain.... PRAAAKKK!!! Aaarrgggh!!!!
Aku memecahkan vas bunga dan berteriak seperti orang tidak waras semata-mata hanya untuk melampiaskan semuanya.
"Stop keylan! kamu itu apa-apaan sih!" dia menarik tangan ku supaya tidak melempar vas selanjutnya
"Kamu yang apaan! pecundang tau gak lo!" aku berusaha melepaskan genggamannya
"Key, kasih aku waktu buat lepas dari kamu, suatu saat aku balik lagi ke kamu, aku janji"
"Lebih baik aku ngga ketemu kamu lagi sa!"
"Jangan kaya anak kecil! kita udah gede, harusnya kamu ngertiin aku!"
"Iya aku anak kecil! tapi seenggaknya aku ngejaga perasaan kamu!"
"Masih ada yang harus aku jelasin ke kamu"
"Cukup! aku ngga mau dengerin lagi! kamu pergi sana gak usah balik lagi kesini!" aku mengusir dia dari hadapan ku sambil mendorong badannya dan menangis, aku hanhya menatap televisi dengan bersamaan mengalirnya air mataku.
"Fine aku pulang, aku pergi, aku ngga bakal balik lagi kesini, jaga diri kamu baik-baik key, kamu jangan nangis lagi ya, aku gak mau liat kamu cengeng, kamu kuat dan aku ngga pantes kamu nangisin, pesan terakhir aku tolong maafin aku ya keylan. Selamat tinggal"
Baru saja irsa membalikan badannya dan belum sempat dirinya menghilang ditelan pintu, aku segera berlari menuju kamar dengan perasaan yang bagiku sangatlah bodoh! Padahal ingin rasanya ku peluk dirinya dari belakang dan menahan dia agar tidak benar-benar pergi, aku masih menginginkannya ada disamping ku,ingin canda dan tawa kita,ingin melihat dia ada untuk ku. Tapi aku tidak sanggup terlalu lama memperlihatkan air mataku.
Aku melempar pintu sekencang mungkin lalu menguncinya dan menyenderkan dibelakang pintu hingga aku perlahan-lahan terposisi duduk, memeluk kedua lutut ku, ku tundukan kepala ku, lalu ku tuangkan seluruh tangisan ku yang lebih memecah hingga suasana kamar menjadi tak karuan. Aku menjerit-jerit dalam hati "Kamu egois sa! kamu jahat! kamu tega! kamu ingkarin janji kamu! liat aku menangis sa,liat aku gadis yang ngga pernah kamu buat menangis sekarang menjerit-jerit kesakitan! aku benci sama kamu!" Aku ucap kata-kata itu berulang kali hingga aku terlelap tidur karna lelah menangisi semuanya.
***
Kurang lebih 3bulan aku tidak dapat melupakan irsa, irsa tak kunjung ada kabar setelah pertengkaran itu, dan segala aktivitas ku merasa tak berarti, apa lagi berguna. Aku malas-malasan, yang aku inginkan hanya cepat pulang dari kuliah dan menyendiri di kamar. Untuk apa lagi jika bukan untuk mengingat irsa? melihat barang-barang darinya, memandangi foto kita sewaktu masih bersama. Tetapi aku pun tidak sudi lagi untuk menghubunginya meskipun aku merindukannya. Aku terlalu sakit, terlalu mudah untuk dia buat menangis!!
To be continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar