Handphone ku bergetar Dret... Dret... Dret... menandakan panggilan masuk dari teman lama ku intan.
"Hal... Hal.. hallo tan" suara ku bergetar menahan tangis.
"Loh lo nangis lagi key?"
"Ngga kok gue cuma lagi flu aja"
"Lo bohong! Keylan,sampe kapan lo mau terpuruk di dalam air mata!"
Nadanya terdengar membentak, tapi aku tau itu demi menghilangkan tangisanku.
"Sampe gue terbiasa tanpa irsa tan"
"Irsa? ada kabarnya juga gak! mati kali dia key, basi banget caranya!"
"Intan! lo gausah khawatirin gue ya, gue baik-baik aja kok" aku mencoba meyakinkan intan
"Tapi gue mau kita yang dulu, gue kangen kita ceria lagi key"
"Nanti tiba saatnya kita kaya dulu lagi" aku tersenyum sendiri untuk kata kita
"Janji yah? kalo besok kita liat buku gimana?
"Wah ide bagus! aku juga bosen dikamar terus"
"Nah loh kan,makan tuh galau haha" Dari sebrang sana terdengar intan menertawakanku
"Yakali kalo bisa dimakan udh gue abisin biar gak ada lagi"
"Oh iyaaa, malah kembung sama air mata ya hihi, yaudah sampa jumpa key"
"Ngeledek lo mah ah, iya sampai jumpa juga"
Semenjak irsa meninggalkan ku, aku tidak bisa terus menerus mengunci diri ku sendiri dan terpuruk menjadi orang tak berguna yang seakan mati.
"Tan intan! Coba liat cowok itu"
"Yang mana?" intan mencoba mencari disekitar toko
"Itu tuh yang pake baju merah" terpaksa dengan jari aku menunjuk-nunjuk lelaki itu
"Oh itu, kok dia......"
"Pasti lo mau bilang mirip irsa kan?"
"Nah iya pas banget!"
Aku melihat sosok lelaki yang tidak asing,lelaki itu seperti irsa yang suka membaca komik. Mungkin hanya halusinasi, atau mirip dengan irsa? tapi dia menatap ku dengan sejuta diam tanpa kata salam. Lelaki itu menatap kami tajam-tajam dan sempat terbaca bibirnya bergerak mengucapkan nama ku "KEYLAN".
Dalam hati aku mengucap "Tatapannya? aku kenal tatapan matanya, bukan! itu bukan irsa! nggak mungkin! dia udah pergi jauh ninggalin semuanya" ku yakinkan diriku dalam hati.
"Tan cari toko lain aja yuk"
"Biasanya lo beli disini kan key" dengan serius membaca bukunya
"Ayolah please tan!" sambil ku tarik tangannya hingga berlari-lari kecil menuju ke luar toko
"Sabar keylan, gue gak bisa jalan cepet begini"
"Oh iya gue lupa, huh untung kita udah aman tan"
"Aman sih, tapi kaki gue lecet tau key!"
"Kenapa dia mirip banget sama irsa ya?" aku bertanya tanpa memperdulikan intan
Kemudian aku mendapat pesan singkat dari nomor yang tidak aku kenal "Selamat siang keylan, aku harap kamu udah maafin aku" Aku ternganga membacanya, karna pesan itu seperti pesan terakhir irsa sebelum dia benar-benar pergi.
"Maaf? emang ini siapa?"
"Ini aku irsa, kamu udah lupa ya?"
"Ngga, inget kok sedikit-sedikit" tapi aku ragu, apakah dia irsa atau bukan?
"Bisa ketemu nanti sore jam 4 ditempat biasa?"
"Tempat biasa? iya bisa" pesan sudah ku kirim bersama dengan rasa penasaranku.
Taman 16:15
Aku datang terlambat, mungkin dia sudah menunggu sangat lama, tapi terasa sangat cepat untuk ku.
"Hey key" sapa dari seseorang di sebrang sana
"Hey, maaf aku telat" sambil sibuk membenarkan tas tanpa menatapnya sedikit pun.
"Gak papa kok aku tau kamu sekarang sibuk"
"Ngga kok biasa aja"
"Kamu mau pesan coklat hangat?"
Dan aku menatapnya, dia masih ingat kesukaan ku. Dia benar-benar irsa tapi bukankah dia sudah pergi dari ku? untuk apa kembali? ingin membuat ku menangis lagi? mengacaukan hati ku lagi? dia tidak merasakan sulitnya melupakan! "Hey keylan, aku tanya kamu pesen coklat hangat kan?
"Hah? iya iya coklat hangatnya satu"
Dengan coklat hangat menemani ku, dan kopi menemani irsa, kami menghabiskan waktu membicarakan hal selama kami tak bertemu.
"Udah jam 5, aku harus ngelukis sa"
"Kamu melukis? sejak kapan?" tanyanya heran
Aku tersenyum seperti terlihat tanpa beban, dan menjawab "Sejak kamu pergi meninggalkan aku"
"Oh, mau aku sebrangin?"
"Ngga usah, sekarang aku bisa sendiri"
"Sejak kapan juga kamu bisa nyebrang sendiri?" Aku hanya tersenyum tipis dan sedikit menundukan kepala, lalu pergi meninggalkan irsa.
**
Hari demi hari irsa semakin dekat dengan ku, aku masih merasakan yang aku rasakan saat pertama kali pendekatan. Waktu terasa begitu lambat, ingin cepat memiliki tapi tak sanggup mengungkapkan karna status ku sebagai seorang wanita. Semuanya terasa indah, deg-degan jika didekatnya, senyum-senyum sendiri, memperhatikan dari jarak jauh, dan mencari tau segala aktivitas terbarunya.
Akhir-akhir ini irsa sering menjemput ku pulang kuliah dengan kendaraan kesayangannya, rasanya seperti flashback saat pertama dekat. Aku ragu untuk memegang lingkaran pinggangnya, tapi di lain sisi aku takut tiba-tiba jatuh.
"Irsa? kamu tau aku takut jatuh?"
"Tau, tapi aku nunggu kamu meluk aku sendiri"
"Kenapa gitu? yaudah aku naik taksi aja"
"Eh aku bercanda key, sini tangan kamu" Irsa menarik tangan ku mengarah ke lingkaran pinggulnya, hingga akhirnya tangan ku sangat kaku mengikuti arahnya.
"Aku kaku sa..." ku katakan dengan rasa malu yang begitu hebat
"Biasanya juga dulu kamu gitu, aku bawa ngebut sedikit aja udah meluk, aku sampe kehabisan napas"
"Ih kamu jangan ngeledek!" Mungkin pipi ku saat ini sudah berubah menjadi merah jambu
"Makanya anggep aja kita kaya dulu"
Aku mengerutkan keningku dan bertanya "Kaya dulu? maksudnya?"
"Hah? kaya dulu? ngga,kamu salah denger mungkin" irsa tetap stay cool berkonsentrasi meyetir motor hingga kami sampai di tempat tujuan.
Aku dan irsa duduk dibawah pohon yang rindang dan bersuasana sunyi tenang hanya ada aku, irsa, suara gesekan daun, dan burung yang sedang berbincang. Oh betapa sia-sianya jika waktu ini hanya kamu habiskan untuk berdiam diri, terpaksa aku membuka sebuah pembicaraan.
"Hmmm..... Irsa..."
"Iya key?" irsa menoleh ke arah ku dan tatapan ku hanya lurus tertuju pada satu pohon.
"kamu tau ngga waktu kamu ninggalin aku, aku sedih banget?"
"Iya aku tau kamu sedih"
"Terus kamu tau gak? aku itu sebenernya mau nahan kamu biar ngga pergi?"
"Terus kenapa gak tahan aku?"
"Kalo aku tahan kamu, sama aja aku nahan kebahagiaan kamu" masih tetap pada pandangan yang sama
"Kenapa gitu?"
"Karna pilihan kamu pasti ke inginan kamu" aku mengayunkan kaki ku
"Terus kamu tau gak kenapa aku pergi?"
"Tau,kan karna kamu bosan sama aku" sahut ku meledek pertanyaan irsa
"Bukan, kamu mau tau alasan sebenernya?"
"Kalo kamu kasih tau aku, apa gunanya?"
"Kamu harus tau yang sebenernya key"
"Haha kamu itu lucu ya sa, itu udah masa lalu,lupain aja" aku tertawa menggap semua masa lalu itu sebuah lelucon.
"Ini nggak lucu key! aku mau ngomong serius"
"Ha? serius?" wajah ku yang tadi tertawa lepas menjadi berubah
"Iya serius! dan kamu harus dengerin aku"
"Ah apaan sih, jangan bercanda deh!"
"Tatap mata aku key!"
"Ga mau ah, apaan sih!"
"Key tatap aku!" irsa mengubah arah ku dengan kedua tangannya menjadi tertuju pada dua bola matanya. Aku hanya diam menatap matanya, hatiku merasakan sesuatu yang aneh, yang ganjil, yang menurut ku ini sangat buruk.
"Kamu udah maafin aku key?"
"Udah dari dulu aku maafin kamu" dengan senyum yang mengembang
"Kamu tau aku bukan irsa?
"Setau aku irsa cuma satu, yaitu kamu"
"Kamu ga tau kalo irsa punya kembaran?"
"Ngga, kamu ga pernah cerita ke aku"
"Jangan panggil aku irsa lagi key!"
"kok tiba-tiba kamu ngomong gitu?!"
"Aku punya alasan!"
"Apa lagi? mau ninggalin aku lagi? iya kan!!"
"Bukan key!"
"Terus apaan? gue tuh capek ya liat lo dateng pergi dikehidupan gue"
"Ini bukan masalah dateng pergi"
"Lo basi sa! dulu juga lo giniin gue kan, skarang lo mau gitu lagi!"
"Bukan keylan! kasih kesempatan aku ngomong"
"Sekarang waktunya gue yang ngomong!"
"Iya kamu bebas mau maki-maki apa aja ke aku"
"Gausah sok pasrah! percuma ga akan ngilangin sakit hati gue"
"Terus apa lagi?"
"Lo itu ga beda jauh sama yang namanya benalu! pengganggu ketenangan jiwa gue!" "Aku boleh ngomong sekarang?"
"Gak penting! gue cabut! muak lama-lama sama lo!"
"Key tunggu!" irsa menarik tangan ku, aku menghentikan langkah ku tapi tak menoleh ataupun menjawab. Dengan pelan irsa mengatakan "aku bukan irsa!"
Terkejut! aku sangat terkejut! "Kamu bohong! kamu bercanda sa!" Aku mendengarkan dengan hati yang begitu gemetar, rasanya tak karuan, bertanya siapa dia jika bukan irsa. Apa maksud semua ini? kenapa irsa datang pergi dan datang kembali hanya untuk membuat ku kecewa. Tidak adakah niat baik untuk melanjutkan tawa di hidup ku?
"Maaf key, aku kembaran irsa, nama ku reysa. Beberapa bulan yang lalu irsa nyuruh aku buat nyari kamu dan nyamar seolah aku adalah irsa, cuma buat nanya kamu udah maafin dia atau belum"
"Terus irsa mana? kenapa dia gak nanya sendiri? pengecut banget!"
"Dia udah pergi jauh key"
"Seenaknya aja di pergi, lepasin tangan aku rey! aku mau cari irsa!!" aku memberontak ingin berlari
"Dia udah gk ada!"
"Maksud kamu apa?!"
"Irsa udah meninggal keylan!"
"Apa rey? kamu pasti salah orang!"
"Aku benar,dia kena penyakit kanker paru-paru"
"Nggak! Nggak mungkin secepat ini rey!"
"Semua terjadi secara tiba-tiba"
"Tapi dia gak bilang sama aku!"
"Dia gamau buat kamu sedih, dia mau kasih tau kamu, tapi kamu lagi marah besar. Dia pura-pura ga nyaman sama kamu,tapi dalam hatinya sangat nyaman key, dia sayang kamu lebih dari menyayangi dirinya sendiri"
kepala ku yang tadinya menatap mata reysa yang tingginya lebih tinggi dari ku, perlahan tertunduk mematung tak berdaya, tubuhku di buat lemas seketika, wajah ku memucat tak mempercayai irsa telah pergi selamanya.
"Jangan nangis keylan"
"Aku menyesal rey" ku kepalkan kedua tangan ku menjadi satu seperti ingin menggenggam tangan irsa saat ini juga.
"Sekarang nyesel kehilangan dia?"
"Aku menyayangi dia rey, aku belum siap kehilangan dia"
"Kamu bisa anggap aku irsa key"
"Nggak, irsa cuma satu!!!"
"Kemarin irsa ada dua, sekarang dia tinggal satu. Aku siap jadi pengganti irsa, bahkan aku siap jadi diri irsa dengan beberapa perbedaan dari sifat kami"
Sepontan aku memeluk reysa, mencoba menghadirkan sebuah ketenangan. Syukurlah resya mengerti dan mengizinkan aku untuk memeluknya. Aku hanya diam tanpa berkaca-kaca mengeluarkan tangisan, aku menangis lagi, menangisi orang yang aku anggap telah hadir kembali untuk ku tapi ternyata telah pergi selamanya meninggalkan ku. Ingin ku cabik diriku sendiri, betapa bodohnya aku selama ini, aku tidak memanfaatkan waktu ku bersamanya, aku tidak mau mendengarkan alasan terakhirnya. Aku menyesal mensia-sia kan detik-detik terakhir ku bersamanya. TAMAT!
** Jadi buat kalian, jangan suka pada nurutin emosi sendiri yah, jangan pernah gamau dengerin alasan seseorang, kita itu seperti sepasang telinga yang di gunakan untuk saling mendengarkan. Dan ngasih kesempatan kedua buat seseorang hadir lagi dikehidupan kita itu ngga salah, tapi jangan terlalu berharap semuanya akan kembali seperti dulu.Setidaknya cukup dengan menerima keadaan yang ada. Oke thanks ya semuanya yang udah mau bacaaa :'D
baca blog gw dong :D
BalasHapus