Kamis, 28 Maret 2013

Menentukan.

Hai kamu, seseorang yang ada di kehidupanku entah mulai kapan hadirnya dirimu aku tidak pernah memperhatikan jelas itu. Kamu datang mungkin hanya sebuah kebetulan, kebetulan kita bertemu dan kebetulan kita diperkenalkan dengan mereka yang sekarang adalah sahabat kita. Hingga akhirnya kita menjadi seorang teman.

Awalnya kita memang teman biasa, biasa saja saat berdekatan, tidak ada rasa gugup meskipun kita berteman begitu dekat. Bertahun-tahun berteman dekat denganmu membuat aku menghafal kepribadianmu, hmm yah kepribadian yang sangat buruk sekali, hingga aku pernah berkata pada diriku sendiri "Aku tidak ingin kepribadian seperti itu yang nantinya akan aku dapatkan, tapi mengapa orang lain mau? apakah mereka dibutakan rasa sayang? Apa bagusnya kepribadian seperti itu? Dia itu selalu main-main!" Aku selalu berpikir seperti itulah dia, selalu saja gonta-ganti pasangan.

Tidak disangka begitu kita semua lulus sekolah menengah pertama kita berjauhan, aku dan kamu pun juga berjauhan, bahkan kita tak pernah saling sapa lagi, jangankan menyapa, ingin bertemu atau tidak saja tidak pernah terlintas di pikiranku. Tapi tuhan mempertemukan kita lagi, berawal dari acara ulang tahun salah satu sahabat kita, disini kita masih biasa-biasa saja kan? sampai akhirnya kita dekat lebih dari seorang sahabat.

Aku sudah menyangka ini kesalahan, dekat denganmu adalah sebuah kesalahan! Sudah kuterapkan dalam pikiranku kamu adalah kepribadian yang buruk! Karena selera humoris yang tinggi, aku pun merasa nyaman mendengarkan leluconnya. Pikiran yang aku terapkan selama mengenal kepribadiannya berubah menjadi perasaan yang aku terapkan tanpa sengaja.

Hingga beberapa bulan bersamaku, kamu memilih pergi bersama dia. Ya aku memang tidak tahu kapan kalian berkenalan, bagiku mencari tahu kehidupanmu yang sudah lama-lama sekali hanya membuang tenaga, aku malas dan tidak berminat. Bukannya tidak peduli, tapi untuk apa? untuk membuat aku berubah pikiran tidak mencoba bersamamu? Memang seharusnya seperti itu, seharusnya aku mencari tahu, supaya aku tidak menghambat harapan dia dan tidak membebani diriku sendiri untuk memilih mengalah atau melanjutkan tapi menyakitkan. Rusak dan sudahlah rusak hubungan kita hingga aku harus ikhlas menerima kamu bersama dia, dan sadar kamu tidak pantas aku minta kehadirannya, karna aku tidak mau merusak hubungan kalian, aku hanya diam, sedikit pun aku tidak pernah meminta dia kembali kepadaku. Ini rencana tuhan, aku hanya sebuah pemain dalam skenarionya. Pemain tanpa sebuah alur cerita yang dapat di pahami.

Jalan yang aku lewati tidak selalu yang aku tahu, kadang aku mencoba jalan yang ini dan meninggalkan jalan yang itu. Ketika jalan yang ini buruk, Tuhan memberikanku pilihan jalan lain, tinggal bagaimana aku yang akan mencobanya. Percayalah Tuhan selalu memberikan kita jalan selama kita hidup. Jangkan kita hidup, kita meninggal pun Tuhan tetap memberikan jalannya untuk kita menuju surga, meski pun nereka harus terlewati, itulah contoh pilihan sebuah jalan. Ingin menuju surga harus melewati neraka dahulu? Atau memilih tidak melewati neraka dan tidak merasakan surga sama sekali? Tapi sayang jika urusan surga dan neraka, Tuhanlah yang menentukan kamu harus melewati yang mana, kamu hanya berjalan mengikuti alur Tuhan dan bertanya sendiri "kemana aku sebenarnya berjalan?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar